Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
Josua menilai risiko terbesar apabila LNG non-subsidi tetap dijual tanpa penyesuaian harga adalah meningkatnya tekanan terhadap penyedia energi yang pada akhirnya dapat mengganggu ketersediaan pasokan.
Baca Juga: Pengguna Commuter Line Jabodetabek Selama Long Weekend Tembus 326.300 Orang
“Dalam situasi seperti saat ini, yang paling penting adalah ketersediaan dan kepastian pasokan energi, bukan sekadar harga murah,” tegasnya.
Menurut dia, tanpa penyesuaian harga yang memadai, perusahaan energi akan lebih berhati-hati dalam mengambil kontrak pasokan jangka panjang maupun membeli tambahan pasokan yang mengacu pada harga pasar global.
Selain itu, investasi sektor hulu migas juga berpotensi tertahan karena harga domestik tidak mencerminkan keekonomian proyek.
“Jika investasi hulu melemah, Indonesia berisiko semakin bergantung pada impor energi, termasuk LNG, dan menjadi lebih rentan terhadap gejolak harga global,” katanya.
Untuk itu, Josua menyarankan penerapan mekanisme penyesuaian harga yang lebih fleksibel. Ketika harga LNG global naik, penyesuaian ke industri dilakukan secara bertahap. Sebaliknya, saat harga global turun, manfaatnya juga perlu diteruskan kepada pelaku usaha.
Baca Juga: Setahun Nusantara Prestige, Daikin Perkenalkan Program bagi Teknisi AC
“Jalan tengahnya adalah penyesuaian harga secara bertahap, pemberian bantuan yang tepat sasaran, kontrak pasokan jangka panjang, peningkatan efisiensi energi di sektor industri, percepatan produksi gas domestik, serta kepastian investasi hulu migas. Dengan pendekatan tersebut, Indonesia dapat menjaga daya saing industri tanpa mengorbankan ketahanan energi jangka panjang,” ujarnya.
Pandangan senada disampaikan Guru Besar sekaligus Direktur Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Prof. Candra Fajri Ananda.
Menurutnya, penyesuaian harga energi, khususnya LNG yang semakin dibutuhkan, merupakan langkah yang perlu dilakukan.
“Dalam sektor energi, harga harus mampu menutup biaya produksi. Dalam kondisi seperti sekarang, yang paling penting adalah memastikan energi tersedia dan tidak langka,” kata Candra.
Ia menambahkan bahwa kondisi saat ini menjadi pelajaran penting bahwa kebijakan harga energi perlu mengikuti dinamika global dan tidak selalu bergantung pada subsidi.
“Kalau mau jujur, subsidi tidak selalu menciptakan ekonomi yang efisien. Subsidi ibarat vitamin yang membuat kita terasa sehat sesaat, tetapi sebenarnya rapuh,” ujarnya.
Baca Juga: Menilik Kemampuan DSI Menekan Under Invoicing Ekspor SDA
Menurut Candra, skema subsidi yang berlebihan juga berisiko mengurangi daya tarik investasi di sektor energi.
Padahal, investasi yang berkelanjutan dibutuhkan untuk menjaga kecukupan pasokan energi dalam jangka panjang.
Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen energi dan keberlanjutan usaha penyedia energi agar ketahanan energi nasional tetap terjaga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













