Reporter: Nur Qolbi | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir "menyentil" PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom. Ia menilai, dalam era disrupsi teknologi seperti saat ini, Telkom tidak bisa bergantung pada pendapatan dari anak usaha selulernya, yakni PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel).
Oleh karena itu, ia berharap Telkom dapat berubah. Salah satunya adalah dengan fokus menggarap lini bisnis big data dan cloud.
Berdasarkan materi public expose Telkom Agustus 2019 lalu, Telkomsel memang menjadi penyumbang terbesar pendapatan BUMN ini. Kontribusinya mencapai 65% dari pendapatan Telkom pada semester I-2019 yang sebesar Rp 69,3 triliun. Secara tahunan, pendapatan Telkomsel tumbuh 5,5%, dari Rp 42,7 triliun menjadi Rp 45,1 triliun.
Baca Juga: Menteri BUMN Erick Thohir menyentil gaya bisnis Telkom (TLKM)
Kontributor terbesar kedua pendapatan Telkom berasal dari bisnis segmen enterprise yang mencapai Rp 11,9 triliun atau setara 17,2%.Meskipun begitu, pendapatan segmen ini justru turun 3% secara tahunan.
Disusul oleh bisnis Indihome yang membukukan pendapatan Rp 8,8 triliun atau naik 61,5% year on year (yoy) dan segmen wholesale dan internasional yang sebesar Rp 6 triliun atau naik 37,5% yoy.
Analis Kresna Sekuritas Etta Rusdiana menilai wajar apabila saat ini Telkomsel menjadi kontributor terbesar pendapatan Telkom. Pasalnya, struktur bisnis internet di Indonesia berkebalikan dengan Amerika Serikat.
Di sana, tulang punggung jaringan internet adalah fixed line, sedangkan mobile internet menjadi secondary access. Hal ini membuat tarif layanan seluler per gigabyte jauh lebih mahal dibandingkan dengan fixed line.
Baca Juga: Erick Thohir bakal merombak para petinggi di tiga bank BUMN, bank mana saja?
Sebaliknya, di Indonesia mobile internet justru menjadi tulang punggung internet, sedangkan akses fixed line menjadi hal yang eksklusif.
"Biaya per bulan Rp 300 ribu-an dirasa masih mahal oleh sebagian besar penduduk, sedangkan internet mobile bisa dibeli di bawah Rp 50.000 per bulan," kata Etta saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (13/2).
Meskipun begitu, Etta menilai, Telkom memiliki potensi untuk mengembangkan bisnis fixed line-nya. Pasalnya, permintaan terhadap pemasangan fiber to the home (FTTH) tergolong tinggi. Hal ini bisa dilihat dari pertumbuhan pelanggan IndiHome.
Sebagai gambaran, sepanjang sembilan bulan pertama 2019, TLKM berhasil menambah 1,4 juta pelanggan baru. Dengan begitu, total pelanggan IndiHome pada akhir September 2019 menjadi 6,5 juta atau tumbuh 38,3% yoy.
Baca Juga: Cerita Wamen BUMN soal pendapatan Telkom yang dinilai stagnan
"Kalau sudah memasuki era video streaming, memang FTTH yang paling murah. Strateginya tinggal memperluas cakupan, misalnya lewat kerja sama dengan PLN dan harga mulai dari Rp 60.000 per bulan untuk prabayar)," ucap dia.
Di sisi lain, pada tahun ini Telkom memang berencana untuk mengembangkan bisnis-bisnis di luar Telkomsel. Berdasarkan catatan Kontan.co.id, untuk bisnis IndiHome, TLKM menargetkan jumlah pelanggannya pada 2020 bisa mencapai 8 juta.
"Pasarnya masih cukup luas dan kami kan Telkom punya pasukan di seluruh Indonesia. Jadi, pasarnya masih bisa kami penetrasi lebih jauh," kata Direktur Keuangan Telkom Harry M. Zen beberapa waktu lalu.
Bersamaan dengan target tersebut, Telkom juga akan menambah panjang fiber optic-nya, terutama untuk akses dari jaringan tulang punggung menuju rumah pelanggan. Telkom juga akan mengembangkan fitur layanan baru yang bisa diperoleh oleh para pelanggan sekaligus menambah kecepatan internet IndiHome hingga 300 Mbps.
Baca Juga: Menguntungkan Telekomunikasi Indonesia (TLKM), bisnis data jadi prioritas tahun ini
Selanjutnya, untuk segmen enterprise, perusahaan ini akan berfokus untuk mengembangkan layanan yang memberikan margin lebih tinggi, yakni layanan konektivitas, termasuk data dan internet.
Telkom juga akan mendiversikasi produknya dengan fokus membangun data center dan cloud. "Layanan data center dan cloud lagi booming di Indonesia dan memang menjadi kebutuhan.
Bahkan, sejumlah pemain global sudah mengumumkan untuk membangun data center di sini," kata dia. Harry menargetkan pendapatan dari lini bisnis enterprise dapat tumbuh 5% pada 2020.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News