Reporter: Nur Qolbi | Editor: Yudho Winarto
Sebaliknya, di Indonesia mobile internet justru menjadi tulang punggung internet, sedangkan akses fixed line menjadi hal yang eksklusif.
"Biaya per bulan Rp 300 ribu-an dirasa masih mahal oleh sebagian besar penduduk, sedangkan internet mobile bisa dibeli di bawah Rp 50.000 per bulan," kata Etta saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (13/2).
Meskipun begitu, Etta menilai, Telkom memiliki potensi untuk mengembangkan bisnis fixed line-nya. Pasalnya, permintaan terhadap pemasangan fiber to the home (FTTH) tergolong tinggi. Hal ini bisa dilihat dari pertumbuhan pelanggan IndiHome.
Sebagai gambaran, sepanjang sembilan bulan pertama 2019, TLKM berhasil menambah 1,4 juta pelanggan baru. Dengan begitu, total pelanggan IndiHome pada akhir September 2019 menjadi 6,5 juta atau tumbuh 38,3% yoy.
Baca Juga: Cerita Wamen BUMN soal pendapatan Telkom yang dinilai stagnan
"Kalau sudah memasuki era video streaming, memang FTTH yang paling murah. Strateginya tinggal memperluas cakupan, misalnya lewat kerja sama dengan PLN dan harga mulai dari Rp 60.000 per bulan untuk prabayar)," ucap dia.
Di sisi lain, pada tahun ini Telkom memang berencana untuk mengembangkan bisnis-bisnis di luar Telkomsel. Berdasarkan catatan Kontan.co.id, untuk bisnis IndiHome, TLKM menargetkan jumlah pelanggannya pada 2020 bisa mencapai 8 juta.
"Pasarnya masih cukup luas dan kami kan Telkom punya pasukan di seluruh Indonesia. Jadi, pasarnya masih bisa kami penetrasi lebih jauh," kata Direktur Keuangan Telkom Harry M. Zen beberapa waktu lalu.