kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.705.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 16.981   -12,00   -0,07%
  • IDX 9.161   27,50   0,30%
  • KOMPAS100 1.264   0,11   0,01%
  • LQ45 893   -0,45   -0,05%
  • ISSI 336   1,37   0,41%
  • IDX30 457   2,22   0,49%
  • IDXHIDIV20 540   2,60   0,48%
  • IDX80 141   -0,01   0,00%
  • IDXV30 150   0,99   0,66%
  • IDXQ30 146   0,68   0,47%

Ekspor Furnitur Indonesia Pasar Global Tetap Tumbuh, Ini Pasar yang Masih Potensial


Selasa, 20 Januari 2026 / 09:22 WIB
Ekspor Furnitur Indonesia Pasar Global Tetap Tumbuh, Ini Pasar yang Masih Potensial
ILUSTRASI. Furnitur Indonesia Bukukan Potensi Transaksi Rp 50,60 Miliar di KOFURN 2025 Korea Selatan (Dok/Kemendag)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah perlambatan ekonomi global dan perubahan pola perdagangan internasional, permintaan furnitur dari Indonesia dan negara-negara Asia dinilai masih tetap tinggi. Hal ini didorong oleh kebutuhan pasar global yang terus berkembang, terutama di negara-negara berkembang.

General Manager Malaysian International Furniture Fair (MIFF), Kelie Lim, menyebutkan bahwa kawasan seperti Afrika, Timur Tengah, sebagian Amerika Latin, dan Eropa Timur memiliki potensi jangka panjang yang kuat. Selama ini, pembeli terkuat masih berasal dari Amerika Serikat, Eropa, Jepang, China, Korea Selatan, Timur Tengah, India, dan negara-negara ASEAN. Bahkan, menurut pengalamannya, minat dari pasar negara berkembang terus menunjukkan pertumbuhan.

Meski demikian, Kelie mengakui adanya tantangan dalam ekspansi pasar, terutama terkait logistik, kompleksitas regulasi, serta pemahaman karakter pasar. “Kami terus bekerja sama dengan mitra untuk secara bertahap membangun kesadaran dan kepercayaan di pasar-pasar tersebut, dengan menyadari bahwa ekspansi berkelanjutan memerlukan edukasi, kepercayaan, dan keterlibatan jangka panjang, bukan hasil instan,” ujarnya dalam rilis.

Baca Juga: Rayu Modal Korea di Seoul, Tantangan Riil Ada di Infrastruktur dan Efisiensi Logistik

Kelie menilai permintaan furnitur global masih tergolong tangguh, meskipun pembeli kini semakin selektif. Fokus pembeli tidak lagi semata pada volume, melainkan pada nilai tambah, relevansi desain, keberlanjutan, serta keandalan operasional. “Prospek industri furnitur masih positif secara hati-hati, khususnya bagi produsen yang mengadopsi inovasi berbasis desain, kesiapan digital, dan kemampuan beradaptasi terhadap pasar,” jelasnya.

Dalam upaya mendorong transaksi yang berkualitas, MIFF bekerja sama dengan berbagai badan perdagangan internasional, kedutaan besar, kamar dagang, serta mitra industri untuk menarik pembeli dengan niat pembelian yang nyata. Kelie menyebut Indonesia sebagai salah satu partisipan paling penting dalam MIFF yang akan digelar pada 4–7 Maret 2026.

“Selama bertahun-tahun, kami menyambut kehadiran konsisten produsen dan UMKM Indonesia, yang banyak memanfaatkan MIFF sebagai pintu gerbang menuju pasar internasional,” kata Kelie. Menurutnya, MIFF juga menjadi titik temu regional yang memungkinkan produsen Indonesia menjajaki kemitraan di luar penjualan langsung, seperti kolaborasi OEM, pengembangan desain bersama, hingga integrasi rantai pasok regional dengan mitra dari Malaysia, Vietnam, Thailand, dan negara lainnya.

Kelie menilai MIFF tetap strategis karena mencerminkan bagaimana ASEAN dan kawasan Asia yang lebih luas beroperasi sebagai ekosistem produksi dan perdagangan yang saling terhubung. “Industri furnitur Asia saat ini tidak lagi didefinisikan oleh negara yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan oleh kolaborasi regional, di mana material, manufaktur, desain, dan logistik terintegrasi lintas negara,” ujarnya.

MIFF, lanjut Kelie, mempertemukan kapabilitas produksi, pemikiran desain, dan akses pasar dalam satu platform. Kombinasi ini memungkinkan pelaku industri beralih dari sekadar aktivitas sourcing transaksional menuju kemitraan jangka panjang serta strategi rantai pasok yang terintegrasi.

Di tengah ketegangan perdagangan global, strategi industri furnitur juga mengalami perubahan. Menurut Kelie, kondisi tersebut tidak memperlambat industri, melainkan justru mempercepat diversifikasi. “MIFF telah menjadi platform praktis untuk diversifikasi rantai pasok di ASEAN, dengan menyediakan akses ke produsen siap ekspor dan jaringan produksi regional tanpa harus menggantikan basis sourcing yang sudah ada,” jelasnya.

MIFF juga berperan penting dalam membantu produsen, khususnya dari ASEAN, untuk memasuki pasar ekspor baru dan berkembang secara internasional. Banyak peserta pameran yang awalnya berperan sebagai pemasok OEM, kemudian berkembang menjadi ODM hingga pemilik merek sendiri dengan tujuan pasar Eropa, Amerika Serikat, Timur Tengah, dan negara berkembang lainnya.

Kelie mengungkapkan bahwa MIFF kerap dijadikan referensi oleh pembeli dalam mengambil keputusan sourcing internasional, mulai dari menemukan pemasok baru, menilai kesiapan produk, hingga membangun kemitraan sourcing jangka panjang. Hubungan tersebut sering berlanjut setelah pameran, melalui kunjungan pabrik, pengembangan produk bersama, hingga pertumbuhan ekspor berkelanjutan.

Baca Juga: ESDM Pasang Target Tinggi: PNBP Minerba 2026 Rp 134 Triliun

Ia juga mencatat bahwa banyak transaksi terjadi selama pameran berlangsung, sementara sebagian lainnya diselesaikan beberapa minggu setelah acara, yang merupakan hal lazim dalam perdagangan B2B berskala besar. “Indikator keberhasilan jangka panjang mencakup partisipasi ulang peserta, perluasan ukuran stan, kembalinya pembeli, serta masuknya peserta pameran ke pasar baru,” paparnya.

Kelie menambahkan, perjalanan MIFF mencerminkan evolusi industri furnitur Asia Tenggara dari sekadar kekuatan manufaktur menuju industri yang inovatif, terhubung secara global, dan digerakkan oleh desain. “Apa yang telah kami capai bukanlah hasil dari satu negara atau satu perusahaan, melainkan buah dari puluhan tahun kolaborasi regional dan ambisi bersama,” tutupnya.

Selanjutnya: IHSG Masih Bisa Menguat, Cek Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Selasa (20/1)

Menarik Dibaca: IHSG Masih Bisa Menguat, Cek Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Selasa (20/1)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×