kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45729,74   -6,98   -0.95%
  • EMAS963.000 3,44%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Hadapi tantangan daya beli, Kino Indonesia (KINO) andalkan segmen personal care


Jumat, 10 Januari 2020 / 14:26 WIB
Hadapi tantangan daya beli, Kino Indonesia (KINO) andalkan segmen personal care
ILUSTRASI. kino dok

Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten konsumer PT Kino Indonesia Tbk (KINO) mengandalkan produk personal care di sepanjang tahun ini untuk menyiasati daya beli masyarakat yang akan tertekan oleh berbagai sentimen, salah satunya naiknya iuran BPJS Kesehatan hingga dua kali lipat. 

Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan PT Kino Indonesia Tbk Budi Muljono mengakui salah satu tantangan yang dirasakan perusahaan tentu soal daya beli masyarakat yang erat kaitannya dengan produk konsumer. 

"Daya beli masyarakat saat ini terjadi shifting dalam perilaku konsumen yakni dari ekonomi konvensional beralih menjadi online," jelasnya kepada Kontan.co.id, Kamis (9/1). 

Baca Juga: Kino Indonesia (KINO) Siapkan Capex Rp 350 Miliar

Di tahun ini, Budi mengakui sentimen dalam negeri cukup menantang, tapi personal care akan tetap jadi fokus utama karena loyalitas pelanggan yang tinggi.  

Asal tahu saja beberapa produk personal care besutan Kino Indonesia adalah Ellips dan Sasha di segmen hair care. Kemudian segmen wewangian ada parfum dengan merek Eskulin dan masih banyak lainnya. 

Dengan target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan pemerintah, daya beli masyarakat akan membaik. Apalagi jika Indonesia mampu menarik investasi yang akan membuka lapangan kerja tambahan. 

Budi menjelaskan, KINO akan mencoba mengembangkan pasar di luar negeri untuk beberapa produk potensial agar bisa membantu negara mengurangi defisit neraca perdagangan. 

Menanggapi soal apakah ada opsi dari perusahaan untuk menaikkan harga di tahun ini, Budi menjelaskan produk Kino kebanyakan merupakan market leader di kategori masing-masing sehingga KINO merupakan price setter. Oleh karenanya, Kino Indonesia selalu mengevaluasi opsi yang ada untuk menentukan pengaruh kenaikan harga terhadap penerimaan konsumen.

Baca Juga: KINO optimistis pendapatan bisa tumbuh 15%-20% di tahun depan

Berdasarkan catatan Kontan.co.id, KINO telah menganggarkan belanja modal di sepanjang tahun ini berkisar Rp 300 miliar sampai Rp 350 miliar. Dana belanja modalnya akan digunakan untuk menambah kapasitas produksi. 

Hingga akhir 2020, KINO membidik pertumbuhan double digit atau 15% sampai 20% atau berkisar Rp 5,38 triliun sampai Rp 5,62 triliun. 




TERBARU

Close [X]
×