Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Eskalasi geopolitik di Timur Tengah mendorong krisis energi global yang mulai berdampak pada rantai pasok dan harga energi dunia, termasuk liquefied natural gas (LNG).
Dalam kondisi tersebut, keberlanjutan pasokan energi dinilai menjadi faktor paling penting untuk dijaga.
Pakar energi sekaligus Guru Besar Universitas Indonesia dan Rektor IT PLN, Prof. Iwa Garniwa menyebut dalam situasi krisis geopolitik, prioritas utama negara adalah memastikan keamanan pasokan energi atau security of supply, bukan sekadar menjaga harga tetap murah.
Baca Juga: GOTO Siapkan 4 Strategi Untuk Respon Prespres Ojol, Skema Bagi Hasil Akan Disesuaikan
“Di krisis geopolitik prioritas utama adalah security of supply, bukan harga. Mengamankan pasokan fisik jauh lebih krusial daripada sekadar menjaga harga. Kalau energinya tidak ada, harga murah pun tidak ada gunanya,” ujar Iwa dalam keterangannya Selasa (19/5/2026).
Ia mencontohkan pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang sebelumnya mengungkap Indonesia pernah mengamankan dua kapal pengiriman energi, namun kapal tersebut berbalik arah sebelum memasuki perairan Indonesia karena ada negara lain yang bersedia membeli dengan harga lebih tinggi.
Menurut Iwa, kondisi tersebut merupakan realitas pasar energi global, khususnya di pasar spot ketika pasokan sedang ketat.
“Siapa yang membayar lebih tinggi, kapal akan berbelok. Negara yang tidak memiliki kontrak jangka panjang, infrastruktur regasifikasi yang fleksibel, dan cadangan strategis akan kalah bersaing,” jelasnya.
Baca Juga: Pasar Makin Padat, Brand Sportswear Cari Pertumbuhan di Luar Penjualan Produk
Ia menegaskan energi merupakan “oksigen” bagi perekonomian. Tanpa listrik dan pasokan gas untuk industri, aktivitas produksi dapat berhenti, rantai pasok terganggu, dan inflasi meningkat.
Karena itu, Iwa menilai dalam situasi seperti saat ini, ketersediaan energi harus menjadi prioritas utama sebelum pengaturan harga dilakukan.
“Availability first, then affordability management. Jangan dibalik,” katanya.
Tekanan Harga Energi
Iwa menjelaskan lonjakan harga energi global saat ini sudah mulai dirasakan di dalam negeri. Harga LPG industri tercatat naik sekitar 25%–26%, sementara harga solar industri meningkat sekitar 77%–84% mengikuti kenaikan harga energi global.
Sementara itu, harga LNG domestik dinilai masih tertahan karena sebagian besar kontrak masih menggunakan harga lama. Namun, tekanan kenaikan harga diperkirakan akan segera muncul.
“LNG domestik belum naik karena masih memakai kontrak lama, tetapi tekanan itu akan datang,” ujarnya.
Ia menyebut, eskalasi konflik di Timur Tengah sejak Februari 2026 telah memicu lonjakan harga acuan LNG global.
Baca Juga: Xpeng Kuasai Manufaktur EV Erajaya, Pengamat Soroti Pentingnya Transfer Teknologi
Japan Crude Cocktail (JCC) tercatat naik sekitar 97%, sedangkan Japan Korea Marker (JKM) melonjak sekitar 111% sepanjang Maret–April 2026.
Kenaikan tersebut turut mendorong Indonesian Crude Price (ICP) meningkat sekitar 99% dibanding asumsi awal tahun.
Menurut Iwa, publik perlu memahami bahwa harga LNG domestik tetap terhubung dengan mekanisme pasar global karena formula harga masih mengacu pada indikator internasional seperti JCC dan JKM.
“Untuk mengamankan LNG domestik, kita harus mengubah mindset dari ‘jual semurah mungkin’ menjadi ‘jamin pasokan dulu, harga dikelola’. Jangan denial dengan menahan harga terlalu lama,” katanya.
Pemerintah Diminta Prioritaskan Pasokan Domestik
Di tengah pasar LNG global yang semakin ketat, Iwa menilai pemerintah perlu memprioritaskan pengamanan pasokan dalam negeri, termasuk mempertimbangkan pengalihan sebagian pasokan LNG ekspor untuk kebutuhan domestik.
Menurut dia, langkah tersebut penting karena sektor industri merupakan penggerak utama ekonomi nasional dan pencipta lapangan kerja.
Baca Juga: CNG Jadi Substitusi LPG, Bagaimana Nasib Proyek DME?
“Tanpa kepastian energi, industri akan menghadapi tekanan produksi yang pada akhirnya berdampak luas terhadap ekonomi,” ujarnya.
Ia juga menekankan peran strategis gas bumi sebagai energi transisi dan penopang daya saing industri nasional.
“Tanpa gas, transisi energi tidak mungkin berjalan dan kehilangan gas sama saja kehilangan daya saing industri,” katanya.
Meski harga LNG domestik nantinya disesuaikan, Iwa meyakini LNG masih lebih kompetitif dibanding energi fosil lainnya.
Berdasarkan perhitungan BPH Migas dan Kementerian ESDM, 1 MMBTU gas setara dengan sekitar 7 liter solar.
Jika harga LNG setelah penyesuaian mencapai Rp 150.000 per MMBTU, maka nilainya setara sekitar Rp 21.400 per liter solar.
Sementara itu, harga solar industri nonsubsidi saat ini disebut sudah jauh lebih tinggi, belum termasuk biaya perawatan mesin yang lebih mahal.
Baca Juga: AREBI Percepat Sertifikasi Kompetensi Broker Properti
Selain itu, gas dinilai memiliki efisiensi pembakaran lebih tinggi, yakni sekitar 90%–95%, dibanding solar yang berkisar 80%–85%.
Emisi karbon gas juga disebut sekitar 40% lebih rendah dibanding batu bara dan 25% lebih rendah dibanding solar.
Setelah penyesuaian harga, LNG domestik untuk industri diperkirakan berada pada kisaran US$ 21–25 per MMBTU, masih lebih rendah dibanding LPG industri sekitar US$ 28,3 per MMBTU maupun solar industri yang mencapai sekitar US$ 43 per MMBTU.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













