kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.844.000   -183.000   -6,05%
  • USD/IDR 16.784   -1,00   -0,01%
  • IDX 8.123   199,87   2,52%
  • KOMPAS100 1.137   29,35   2,65%
  • LQ45 824   17,48   2,17%
  • ISSI 289   10,45   3,75%
  • IDX30 430   9,01   2,14%
  • IDXHIDIV20 515   9,13   1,81%
  • IDX80 127   3,21   2,60%
  • IDXV30 141   5,28   3,90%
  • IDXQ30 139   1,96   1,43%

Ini dua penyebab tingginya harga jengkol


Selasa, 13 Agustus 2013 / 14:50 WIB
Ini dua penyebab tingginya harga jengkol
ILUSTRASI. Ingin Wajah Bebas dari Bekas Jerawat? Ikuti 5 Cara Merawatnya di Sini


Reporter: Oginawa R Prayogo | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Kementerian Perdagangan mengakui tidak hanya daging sapi saja yang harganya tinggi, komoditas lain seperti jengkol pun sempat naik harganya pada Lebaran kemarin.

Pada Juni lalu, harga jengkol sempat merangkak naik mencapai Rp 50.000 per kilogram (kg). Kemudian turun kembali menjadi Rp 30.000 per kg.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, menyatakan, ada beberapa penyebab yang membuat harga jengkol naik. Dia bilang, penyebabnya terkait lahan pertanian komoditas tersebut.

"Banyak warga realokasi lahan jengkol untuk kelapa sawit. Kemudian kayu dari pohon tersebut digunakan untuk furniture," ujar Gita di kantornya, Selasa (13/8).

Nah, dua alasan tersebut ikut memicu berkurangnya stok jengkol di pasaran. Alhasil, harga jengkol melejit tinggi.

Untuk mengatasi tingginya harga jengkol, menurut Gita, salah satu solusinya adalah  mengembalikan lahan pertanian komoditas tersebut.

Meski begitu, Gita tidak ambil pusing terhadap kenaikan harga jengkol. Alasannya, pergerakan harga komoditas ini tidak banyak mempengaruhi inflasi. "Jengkol tidak seperti minyak goreng, bawang, dan cabai," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×