Reporter: Prayogi Ikhrawinata | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT MRT Jakarta (Perseroda) terus mengkaji rencana pembangunan jalur MRT yang menghubungkan Fatmawati hingga Taman Mini Indonesia Indah (TMII), sebagai bagian dari pengembangan jaringan transportasi massal di Ibu Kota.
Pengamat transportasi dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, menilai rencana tersebut sebenarnya telah lama masuk dalam pengembangan jaringan MRT Jakarta.
Menurutnya, koridor Fatmawati–TMII akan memperkuat konektivitas antara wilayah selatan dan timur Jakarta, sekaligus terintegrasi dengan sejumlah simpul transportasi di kawasan TMII.
Baca Juga: Percepat Fase 2A, MRT Jakarta Teken Kontrak CP207 untuk Sistem Tarif Otomatis
“Pengembangan MRT fase Fatmawati–TMII memang sudah lama direncanakan. Jalur ini dapat menghubungkan koridor selatan ke arah timur dan nantinya terintegrasi dengan simpul transportasi di sekitar TMII,” ujar Yayat kepada KONTAN, Jumat (24/7/2026).
Ia mengatakan, keberadaan jalur tersebut berpotensi mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, khususnya bagi masyarakat yang bepergian dari Jakarta Selatan menuju wilayah timur.
Selama ini, perjalanan pada koridor tersebut masih banyak mengandalkan jaringan jalan tol.
“Ini menjadi bagian dari pengembangan koridor MRT dengan pendekatan yang lebih terintegrasi. Selama ini hubungan selatan dan timur lebih banyak menggunakan akses jalan tol, sehingga pengembangan jalur ini bisa menjadi terobosan baru,” katanya.
Meski demikian, Yayat menilai pembangunan koridor Fatmawati–TMII belum menjadi prioritas utama dalam waktu dekat. Menurutnya, realisasi proyek masih bergantung pada kesiapan pendanaan dan investor.
Baca Juga: MRT Jakarta Rampungkan Terowongan Arah Utara Fase 2A Bundaran HI–Kota
Ia menjelaskan, saat ini prioritas MRT Jakarta masih tertuju pada penyelesaian pembangunan MRT Fase 2 yang menghubungkan Bundaran HI hingga Kota.
“Pembukaan MRT Fase 2 menjadi prioritas utama untuk membuktikan kelayakan ekonomi jalur bawah tanah yang membutuhkan investasi sangat besar,” ujarnya.
Yayat menambahkan, pengembangan jaringan MRT ke depan perlu mempertimbangkan keseimbangan antara besarnya investasi dengan manfaat ekonomi jangka panjang.
Selain itu, strategi ekspansi juga perlu diarahkan untuk mengurangi kemacetan di koridor selatan, menyelesaikan konektivitas barat–timur, serta memperkuat integrasi antarmoda di simpul strategis seperti TMII dan Cawang.
Baca Juga: Tarif MRT Rp 1 Sedot 567.633 Penumpang, Blok M-Dukuh Atas Jadi Rute Terfavorit
Menurutnya, keberlanjutan kerja sama pembiayaan internasional serta perhitungan biaya konstruksi yang matang akan menjadi faktor penting dalam mendukung pengembangan jaringan MRT di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














