Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU) membukukan pendapatan sebesar Rp 331,48 miliar sepanjang tahun 2025. Pendapatan MUTU melaju 7,33% secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan raihan Rp 308,84 miliar pada tahun 2024.
Pendapatan MUTU pada tahun lalu bersumber dari jasa pengujian laboratorium sebesar Rp 134,62 miliar, sertifikasi produk Rp 110,27 miliar, serta surveyor dan inspeksi teknis sebesar Rp 86,58 miliar. Masing-masing segmen bisnis tersebut meningkat 6,38%, 11,96% dan 3,31% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba kotor MUTU tumbuh 2,61% yoy dari Rp 139,11 miliar menjadi Rp 142,75 miliar. Sedangkan laba usaha MUTU pada tahun 2025 naik 5,93% yoy menjadi Rp 44,06 miliar dari raihan tahun sebelumnya sebesar Rp 41,59 miliar.
Baca Juga: KAI Ungkap 4,9 Juta Tiket Angkutan Terjual saat Periode Libur Lebaran 2026
Secara bottom line, MUTU meraih laba bersih sebesar Rp 24,15 miliar pada tahun 2025. Keuntungan MUTU naik 0,45% dibandingkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan sebesar Rp 24,04 miliar pada 2024.
Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia Mutuagung Lestari, Sumarna mengungkapkan bahwa kinerja MUTU pada tahun 2025 sejalan dengan penguatan strategi ekspansi ke sektor green economy serta meningkatnya peran MUTU dalam ekosistem bursa karbon di Indonesia.
Menurut Sumarna, transformasi ini menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan bisnis, sekaligus memperkuat positioning MUTU sebagai pemain strategis dalam industri jasa pengujian, inspeksi, dan sertifikasi atau Testing, Inspection & Certification (TIC) yang berbasis keberlanjutan.
Sumarna mengatakan, pertumbuhan pendapatan dan laba pada tahun lalu mencerminkan keberhasilan MUTU dalam menangkap peluang dari meningkatnya kebutuhan sertifikasi dan verifikasi di sektor industri, termasuk yang berkaitan dengan standar lingkungan dan perdagangan karbon.
“Kami melihat tahun 2025 sebagai momentum penguatan, baik dari sisi kinerja keuangan maupun arah strategis perusahaan. Ke depan, kami terus mendorong peningkatan kinerja melalui ekspansi bisnis yang selektif, penguatan kapabilitas sumber daya manusia, serta optimalisasi efisiensi operasional. Dengan fokus pada peluang di sektor green economy dan bursa karbon, kami optimistis dapat mencapai target pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan,” kata Sumarna dalam keterangan tertulis yang diterima Kontan Selasa (31/3/2026).
Secara kuartalan, kinerja MUTU menunjukkan penguatan pada kuartal keempat dibandingkan kuartal III-2025. Momentum ini didorong oleh peningkatan aktivitas bisnis pada akhir tahun, terutama dari sektor industri yang membutuhkan layanan pengujian dan sertifikasi berbasis standar keberlanjutan.
Selain itu, percepatan realisasi proyek dan kontrak pada semester kedua turut meningkatkan kontribusi pendapatan pada kuartal akhir. Optimalisasi utilisasi aset dan efisiensi operasional juga menjaga margin tetap stabil, sehingga secara keseluruhan kinerja kuartal keempat mencerminkan akselerasi yang lebih kuat dibandingkan kuartal sebelumnya.
Sumarna menambahkan, MUTU melihat peluang besar dari berkembangnya ekonomi hijau dan implementasi perdagangan karbon di Indonesia. Kebutuhan terhadap layanan verifikasi, validasi, dan sertifikasi karbon diproyeksikan terus meningkat seiring dengan komitmen pemerintah dan sektor swasta dalam menekan emisi dan mencapai target keberlanjutan.
Baca Juga: Truk Impor India Mengalir ke Kopdes,Proyek Rp24,66 T Disorot di Tengah Tekanan Fiskal
Mutu International pun terus memperkuat kapabilitasnya dalam mendukung ekosistem tersebut, termasuk melalui pengembangan layanan berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG). Dengan fondasi keuangan yang solid dan strategi ekspansi yang terarah, Sumarna optimistis MUTU bisa melanjutkan tren pertumbuhan positif pada 2026.
"Perseroan akan terus mendorong inovasi layanan, memperluas pasar, serta memperkuat kontribusi dalam pengembangan ekonomi hijau nasional, sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan," tandas Sumarna.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













