Reporter: Zendy Pradana | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) menjelaskan bahwa kenaikan harga avtur dan fuel surcharge sangat berdampak kepada industri pariwisata, khususnya untuk perhotelan.
Diketahui, harga bahan bakar avtur mengalami kenaikan signifikan usai adanya konflik geopolitik. Kekinian, dengan adanya kenaikan harga bahan bakar avtur tersebut, juga menyebabkan adanya kebijakan kenaikan fuel surcharge tiket pesawat hingga maksimal 50% dari tarif batas atas menjadi langkah sulit dihindari.
Ketua Umum GIPI, Haryadi Sukamdani menjelaskan bahwa kondisi seperti ini berdampak signifikan terhadap industri perhotelan. Bahkan, okupansi hotel diprediksi mengalami penurunan 10-20% usai terdampak kenaikan avtur dan fuel surcharge.
Baca Juga: Bantah Kurangi Pasokan Pertalite, Pertamina Sebut Ada Kendala Cuaca & Penimbunan
"Jadi range-nya itu dibandingkan dengan tahun lalu ya kita hitungnya year-on-year (YoY) antara 10 sampai 20% dibandingkan tahun lalu ya pengaruhnya," ujar Haryadi kepada Kontan, Jumat (15/5/2026).
Bahkan, kata Haryadi, kenaikan avtur dan fuel surcharge ini juga membuat pengaruh besar terhadap ekonomi leisure. Menurutnya, masyarakat akan memilih untuk tidak bepergian ketika biaya perjalanan mengalami lonjakan.
Haryadi menyebut, jika dilihat berdasarkan penjualan melalui online travel agen (OTA), tiket pesawat sudah mengalami kenaikan hingga 40%.
"Kalau kita melihat di online travel agen ya itu kan naiknya rata-rata harga tiket secara umum antara 30-40%," kata dia.
Di sisi lain, kondisi seperti ini, kata Haryadi, akan menjadi hambatan peningkatan tren positif pada periode kuartal II-2026. Namun, GIPI tetap berusaha maksimal mencari solusinya agar bisnis perhotelan masih tetap eksis di saat kondisi yang tak menentu.
"Ya kita memaksimalkan supaya kesempatan kita memperoleh tamu tidak hilang. Nah caranya yang kita lakukan adalah kolaborasi di antara pelaku usaha di pariwisata," sebutnya.
Kondisi ini juga memaksa pengusaha pariwisata bersikap konservatif dalam mencapai targetnya tahun ini.
Baca Juga: GFI Bidik Mobilisasi Pembiayaan Hijau US$ 500 Juta per Tahun, Begini Strateginya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













