kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Alasan pengembang ragu terbitkan DIRE di Indonesia


Minggu, 25 Oktober 2015 / 19:30 WIB
Alasan pengembang ragu terbitkan DIRE di Indonesia


Reporter: Pamela Sarnia | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Sejumlah grup properti masih ragu menerbitkan Dana Investasi Real Estate (DIRE) atau Real Estate Investment Trusts (REITs) di Indonesia kendati pemerintah baru saja merelaksasi aturan soal dana investasi properti itu Kamis lalu (22/10). Kebijakan itu memang positif tapi belum cukup efektif untuk menarik minat para pengembang.

PT Lippo Karawaci Tbk sebagai salah satu pemain lama dalam investasi DIRE saja belum yakin akan menerbitkan produk ini di Indonesia. Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Tbk Meow Chong Loh mengungkapkan dua alasan.

Pertama, struktur hukum untuk meluncurkan DIRE masih dianggap belum lengkap. “Indonesia masih belum punya struktur untuk menerbitkan REITs. Belum ada struktur payung hukumnya," kata Presiden Direktur Lippo Meow Chong Loh saat dihubungi KONTAN, Jumat (23/10).

Alasan kedua, pasar Indonesia masih belum siap untuk berinvestasi dengan produk DIRE. “Investor Indonesia masih belum familier dengan produk ini. Kondisi pasar di Indonesia juga masih belum matang,” kata dia.

Atas dasar itu, perusahaan dengan kode emiten LPKR di Bursa Efek Indonesia tersebut memilih untuk menerbitkan DIRE di luar negeri. Menurut Meow Chong Loh, investor yang berminat menerbitkan DIRE dapat melirik pasar Singapura atau Jepang.

“Kami terpaksa ke Singapura karena di sana strukturnya bagus sekali dan pasarnya lebih likuid dari Indonesia,” tuturnya.

Maka dari itu, pengumuman deregulasi dari pemerintah tidak langsung memicu minat Lippo. “Kita masih pelajari dulu. Kalau legal structurenya dibenahi dan ada penawaran menarik dari pemerintah kami pasti menerbitkan REIT,” papar dia.

Asal tahu saja, Lippo Group menawarkan REITs melalui Lippo Malls Indonesia Retail Trust (LMIR Trust) yang melantai di Bursa Efek Singapura atau Singapore Exchange Securities Trading Limit (SGX-ST) sejak 19 November 2007. Dilansir dari laman resmi LMIR, hingga 31 Desember 2014, nilai aset properti yang seluruhnya berlokasi di Indonesia mencapai S$ 1,841 miliar.

Portofolio LMIR meliputi 17 ritel mal, tujuh area ritel yang berlokasi di mal lain, dan net lettable area (NLA) seluas 781.622 meter persegi (m2). Properti yang dimiliki tersebar di Jakarta, Bandung, medan, Palembang dan Binjai.

Lippo turut mensponsori REITs lain yang menawarkan aset real estate layanan kesehatan bernama First REIT yang masuk dalam daftar SGX-ST pada 11 Desember 2006. Dalam situs resminya, diketahui bahwa sampai 30 September 2015, nilai aset yang dimiliki First REIT sebesar 1,172 miliar dollar Singapura dengan luas lantai kotor 251.339 m2. Aset portofolionya meliputi 16 properti, 12 di antaranya berlokasi di Indonesia, tiga di Singapura, dan satu di Korea Selatan.

Tidak jauh berbeda dengan Lippo, PT Intiland Development Tbk pun belum menunjukkan niat untuk mengambil kesempatan menerbitkan REIT. Perusahaan berkode DILD itu memilih utnuk mengkaji pelaksanaan DIRE terlebih dahulu.

“Isi aturan DIRE itu sendiri masih sangat umum. Banyak poin yang berbunyi, “Mengacu pada aturan yang berlaku”. Berarti kami harus menunggu kapan efektif berlakunya,” kata Corporate Secretary Intiland Theresia Rustandi.

Theresia mengungkapkan, sudah sejak lama Intiland mempelajari DIRE untuk dijadikan sebagai alternatif sumber pendanaan. Namun, dahulu kondisinya tidak cukup kondusif.

“Maka dari itu penghapusan pajak ganda ini sangat positif,” tutur dia.

Demikian pula PT Agung Podomoro Land Tbk yang menanggapi deregulasi ini sebagai kabar baik. “Penghapusan pajak aganda ini merupakan angin segar bagi industri properti dalam rangka fund raising dari capital market,” ungkap Corporate Secretary Agung Podomoro Justini Omas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×