kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45879,63   -8,87   -1.00%
  • EMAS937.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.64%
  • RD.CAMPURAN -0.17%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Pinsar menyebut harga ayam di tingkat peternak mulai stabil


Jumat, 18 Desember 2020 / 06:05 WIB
Pinsar menyebut harga ayam di tingkat peternak mulai stabil

Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Singgih Januratmoko mengatakan perkembangan harga ayam di tingkat peternak sudah membaik dalam dua bulan terakhir. Menurut dia, saat ini harga ayam sudah stabil atau sesuai dengan harga acuan pemerintah yang sekitar Rp 19.000 hingga Rp 21.000 per kg.

"Harga itu fluktuatif, kebanyakan di dua  tahun itu di bawah HPP, tetapi dua bulan ini sudah membaik," ujar Singgih dalam webinar dengan tema Mengembalikan Kejayaan Perunggasan Nasional, Kamis (17/12).

Menurut Singgih, hal tersebut pun tidak terlepas dari upaya pemerintah yang menjaga pasokan dan permintaan dengan mengeluarkan surat edaran pengurangan DOC final stock (FS) ayam ras pedaging melalui cutting hatching egg (HE) fertil dan afkir dini parent stock (PS).

Dia pun mengatakan, perbaikan harga ini direspons positif oleh peternak. Karena itu, dia berharap pemerintah bisa mempertahankan upaya-upaya yang bisa menstabilkan harga.

Baca Juga: Widodo Makmur Perkasa (WMP) jaga rantai pasok di industri protein hewani

"Kami harapkan ke depan pemerintah, dirjen PKH, bisa melanjutkan langkah-langkah dari yang kemarin diambil, sampai kondisi benar-benar pulih dan supply-demand bisa seimbang," kata Singgih.

Adapun, Singgih menyebut salah satu masalah di peternakan ayam adalah harga ayam yang buruk sejak tahun 2019 hingga 2020. Bahkan, menurut dia harga ayam di tingkat peternak pernah mencapai Rp 5.000 per kg pada Maret lalu. Hal ini ditambah melemahnya permintaan masyarakat akibat Covid-19.

Buruknya harga ayam membuat peternak mengalami bangkrut, tidak bisa membayar sapronak, bahkan terpaksa menutup usahanya. "Masalah utama harga ayam yang rendah akibat terjadi oversupply, sehingga pernah menanggung rugi besar dan jatuh bangkrut," kata Singgih.

Baca Juga: Kementan harap korporasi unggas tak bersaing dengan peternak rakyat

Singgih juga menjelaskan, oversupply ayam yang berkepanjangan sejak kuartal keempat 2018 hingga 2020 disebabkan jumlah impor grand parent stock (GPS) di 2018 berlebih. Dia mengatakan, impor GPS di 2018 mencapai 743.827 ekor.

Dia juga mengatakan akan ada ancaman oversupply ayam di tahun 2021 mengingat jumlah GPS yang diimpor di 2019 sebanyak 735.500 ekor. "Ancaman tahun 2021 memang masih sama, saya lihat terjadi oversupply. Walaupun pemerintah sudah mengeluarkan berbagai tindakan di akhir tahun, tapi memang tahun 2019 impor (GPS) masih 735.500 ekor yang berpotensi mengganggu supply dan demand di tahun 2021. harapan kita nanti masih ada pengendalian sampai bulan Juni 2021," kata Singgih.

Baca Juga: Bergerak menguat, simak prospek saham emiten poultry JPFA, CPIN, MAIN ke depan

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×