Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bayer AG menyatakan optimisme terhadap strategi transformasi yang tengah dijalankan. Perusahaan mulai melihat hasil dari fokus pada prioritas strategis, ketelitian ilmiah, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).
“Dengan fokus yang tak tergoyahkan pada prioritas strategis dan ketelitian ilmiah, kami mulai melihat hasil dari strategi transformasi yang kami jalankan untuk mendorong pertumbuhan,” kata Stefan Oelrich, Anggota Dewan Manajemen Bayer AG sekaligus Presiden Divisi Farmasi Bayer dalam keterengan tertulisnya, Sabtu (11/4/2026).
Stefan menyebut, Bayer menargetkan kembali tumbuh di kisaran menengah satu digit mulai 2027, didukung portofolio farmasi yang kuat, pipeline multimodal, dan model operasional berbasis AI. Perusahaan juga menargetkan perluasan margin mulai 2028 hingga mencapai sekitar 30% pada 2030.
Sementara itu, Christine Roth, Executive Vice President, Global Head of Product Strategy and Commercialization Bayer memaparkan lima katalis utama pertumbuhan farmasi yang akan menjadi fokus dalam satu dekade ke depan, dengan penekanan pada inovasi terapi untuk penyakit berisiko tinggi dan kebutuhan medis yang belum terpenuhi. “Keputusan-keputusan berani yang kami ambil beberapa tahun terakhir, didukung tim yang mumpuni, dan telah terbukti mempercepat inovasi dan menghadirkan dampak nyata ” kata Christine.
Baca Juga: Bayer Dorong Produktivitas Jagung di Jawa Tengah
Ia bilang, Bayer memperkuat inovasi di bidang kardiologi dengan mengembangkan terapi yang lebih presisi, baik untuk pencegahan stroke maupun pengobatan penyakit jantung progresif, dengan fokus pada mekanisme penyebab penyakit guna meningkatkan efektivitas dan keamanan terapi.
Pada area penyakit ginjal kronis dan gagal jantung, Bayer mengembangkan pendekatan terapi yang menekan overaktivasi reseptor mineralokortikoid untuk mengurangi peradangan, fibrosis, dan penumpukan cairan yang memperburuk kondisi pasien.
Di bidang onkologi, perusahaan menargetkan kanker prostat metastatik sensitif hormon dengan pengembangan inhibitor reseptor androgen generasi baru untuk menekan pertumbuhan sel kanker. Untuk kesehatan perempuan, Bayer fokus pada terapi gejala menopause seperti hot flashes dan gangguan tidur dengan mekanisme yang menargetkan jalur saraf terkait regulasi suhu tubuh.
Hasil Revitalisasi Pipeline
Sementara itu, strategi revitalisasi pipeline melalui aset inovatif yang dilakukan Bayer mulai menunjukkan hasil kuat pada 2025, dengan tiga persetujuan produk baru, dua perluasan indikasi, dan enam hasil positif uji klinis Fase III.
Christian Rommel, Executive Vice President, Global Head of R&D Bayer bilang, perusahaan pada 2026 akan fokus memperkuat strategi impact-by-innovation lewat pengembangan pengobatan presisi di bidang kardiovaskular, onkologi, terapi sel dan gen, serta pencitraan molekuler.
Baca Juga: Bayer Tambah Investasi Rp 99 Miliar, Kerek Kapasitas Produksi Suplemen Ibu Hamil
Di bidang onkologi, Bayer mengembangkan beberapa terapi target, termasuk terapi alfa bertarget untuk kanker prostat metastatik resisten kastrasi (mCRPC), yang memiliki prognosis rendah dengan harapan hidup rata-rata di bawah tiga tahun.
Selain itu, Bayer juga mengembangkan inhibitor WRN untuk kanker dengan instabilitas mikrosatelit tinggi (MSI-high/dMMR), yang berpotensi memperluas terapi pada kanker kolorektal dan kanker lain seperti endometrium, ovarium, dan lambung.
Di sisi lain, Bayer juga menggarap terapi untuk kanker paru non-sel kecil (NSCLC) bermutasi HER2 melalui inhibitor tirosin kinase.Pada kardiologi, melalui kolaborasi dengan Broad Institute of MIT and Harvard, Bayer meneliti inhibitor kanal GIRK4 untuk mengatasi fibrilasi atrium (AFib).
Terapi Gen dan Optimalisasi AI
Bayer juga mengembangkan portofolio terapi gen dan sel yang berpotensi transformatif dengan memanfaatkan platform AAV dari AskBio dan kapabilitas global perusahaan. Di kardiologi, Bayer meneliti terapi gen sekali dosis untuk gagal jantung (HFrEF), penyakit dengan beban tinggi dan sekitar 64 juta penderita global.
Di bidang neurologi, dikembangkan terapi gen untuk penyakit Parkinson yang menargetkan mekanisme biologis dasar guna memperlambat progresi penyakit, di tengah meningkatnya jumlah pasien secara global.
Pada terapi sel, BlueRock Therapeutics (unit Bayer) mengembangkan pendekatan regeneratif untuk menggantikan sel yang hilang akibat penyakit, dengan fokus pada skalabilitas produksi untuk uji klinis. Di radiologi, Bayer berinovasi pada pencitraan medis yang lebih presisi dan personal.
Baca Juga: Strategi Omnichannel Mendongkrak Bisnis Omron Healthcare Indonesia Hingga 70%
Sai Jasti, Senior Vice President, Head of Data Science & Artificial Intelligence Bayer Pharmaceuticals R&Dm menambahkan, Bayer menargetkan peningkatan produktivitas R&D hingga 40% pada 2030 melalui integrasi AI dan data pasien anonim dalam satu platform untuk mempercepat penemuan obat dan optimalisasi portofolio biologis.
Perusahaan juga memperkuat ekosistem inovasi lewat kemitraan strategis dengan Vanderbilt University Medical Center, FinnGen, dan PRECISE, yang memanfaatkan data global berbasis AI untuk mempercepat riset penyakit kardiovaskular dan ginjal.
Secara keseluruhan, AI kini menjadi bagian inti operasional Bayer, dari perencanaan global hingga penggunaan alat berbasis agen yang mendukung produktivitas ilmuwan dan percepatan inovasi obat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













