kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Produksi doc dibatasi, peternak ayam mengaku rugi


Selasa, 22 April 2014 / 18:38 WIB
Produksi doc dibatasi, peternak ayam mengaku rugi
ILUSTRASI. Ilustrasi upah tenaga kerja. KONTAN/Muradi/2015/10/08


Reporter: Mona Tobing | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Pemerintah telah mengabulkan permintaan pengusaha peternakan ayam untuk menstabilkan harga. Yakni dengan menerapkan skema pengaturan pasokan suplai bibit ayam berumur sehari atau day old chicken (DOC).

Namun, pembatasan produksi dianggap tidak seimbang dengan harga jual doc ditingkat produsen. Ujung-ujungnya peternak ayam rugi.

Krissantono dari Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) mengatakan, aturan pemerintah merugikan peternak. Membatasi produksi bersamaan dengan rendahnya harga day old chicken (doc) sebesar Rp 3.200. Membuat peternak merugi.

"Karena produksi yang dibatasi dengan harga yang rendah membuat peternak justru mensubsidi biaya produksinya," ujar Krissantono pada Selasa (22/4).

Sementara di tingkat konsumen Krissantono menyebut harga ayam mulai merangkak naik dari Rp 28.000 per kg menjadi Rp 30.000 per kg. Kondisi ini dikatakan Krissantono timpang. Harga jadi tidak seimbang. Terlalu murah di produsen tapi di konsumen juga mulai naik.

Di sisi lain. Krissantono menyebut, harga doc terlalu rendah di Rp 3.200 di bawah harga pokok penjualan (HPP) ditingkat Rp 4.250. Ia menyebut harga idealnya sebesar Rp 4.750. Setiap tahunnya Krissantono menyebut pasokan per bulan doc mencapai 2,4 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU

[X]
×