kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Produksi doc dibatasi, peternak ayam mengaku rugi


Selasa, 22 April 2014 / 18:38 WIB
ILUSTRASI. Ilustrasi upah tenaga kerja. KONTAN/Muradi/2015/10/08


Reporter: Mona Tobing | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Pemerintah telah mengabulkan permintaan pengusaha peternakan ayam untuk menstabilkan harga. Yakni dengan menerapkan skema pengaturan pasokan suplai bibit ayam berumur sehari atau day old chicken (DOC).

Namun, pembatasan produksi dianggap tidak seimbang dengan harga jual doc ditingkat produsen. Ujung-ujungnya peternak ayam rugi.

Krissantono dari Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) mengatakan, aturan pemerintah merugikan peternak. Membatasi produksi bersamaan dengan rendahnya harga day old chicken (doc) sebesar Rp 3.200. Membuat peternak merugi.

"Karena produksi yang dibatasi dengan harga yang rendah membuat peternak justru mensubsidi biaya produksinya," ujar Krissantono pada Selasa (22/4).

Sementara di tingkat konsumen Krissantono menyebut harga ayam mulai merangkak naik dari Rp 28.000 per kg menjadi Rp 30.000 per kg. Kondisi ini dikatakan Krissantono timpang. Harga jadi tidak seimbang. Terlalu murah di produsen tapi di konsumen juga mulai naik.

Di sisi lain. Krissantono menyebut, harga doc terlalu rendah di Rp 3.200 di bawah harga pokok penjualan (HPP) ditingkat Rp 4.250. Ia menyebut harga idealnya sebesar Rp 4.750. Setiap tahunnya Krissantono menyebut pasokan per bulan doc mencapai 2,4 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×