kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.764.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.680   99,00   0,56%
  • IDX 6.599   -124,08   -1,85%
  • KOMPAS100 874   -18,96   -2,12%
  • LQ45 651   -6,79   -1,03%
  • ISSI 238   -4,84   -1,99%
  • IDX30 369   -2,15   -0,58%
  • IDXHIDIV20 456   0,25   0,05%
  • IDX80 100   -1,80   -1,77%
  • IDXV30 128   -1,20   -0,93%
  • IDXQ30 119   -0,20   -0,17%

Ramai-ramai industri farmasi mulai melirik sektor kosmetik


Kamis, 25 Juni 2020 / 18:29 WIB
ILUSTRASI. Konsumen mencoba produk-produk kecantikan di salah satu pusat perbelanjaan di Tangerang Selatan. KONTAN/Baihaki


Reporter: Agung Hidayat | Editor: Handoyo

Mayoritas produk kosmetik yang diekspor adalah bedak, baik yang berbentuk tabur maupun padat dengan merek dagang Marcks’ Venus. Di samping itu, ada juga sabun pencuci wajah (facial wash) dan lotion untuk tangan dan tubuh (hand and body lotion). 

Sementara itu pemain lama di sektor kosmetik, PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) melihat kompetisi di pasar ini cenderung ketat dan beragam pemain. "Kosmetik di Indonesia memang pasarnya cukup besar jadi pasti ada saja pendatang baru setiap tahunnya," ujar Alia Dewi, Corporate Secretary TCID kepada Kontan.co.id, Kamis (25/6).

Baca Juga: Mandom Indonesia (TCID) Berharap Permintaan Kembali Pulih

Produsen yang memiliki banyak merek dagang ini mengaku tengah menggodok strategi untuk bersiang di pasar, khususnya menghadapi kondisi new normal kali ini. Perseroan cenderung berhati-hati lantaran pasar masih belum terlihat pulih dalam waktu dekat.

Relaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang akan diberlakukan diharapkan dapat menumbuhkan konsumsi di tengah masyarakat. Khususnya untuk produk personal care dan kosmetik yang sejak pandemi covid-19 diumumkan pada bulan Maret kemarin mengalami pelemahan permintaan.

"Recovery mungkin perlahan karena konsumen juga pasti hati-hati untuk menggunakan uangnya," ujar Alia. Sebagaimana yang diketahui, di kuartal-I 2020 ini penjualan bersih perusahaan anjlok 21,72% year on year (yoy) menjadi Rp 565,79 miliar.

Alia mengatakan, penurunan penjualan bersih di tiga bulan pertama disebabkan oleh adanya pergeseran dalam konsumsi di tengah masyarakat. Menurut manajemen, kondisi perekonomian yang serba sulit akibat pandemi corona (covid-19) membuat konsumen cenderung memprioritaskan alokasi pengeluarannya untuk membeli kebutuhan pokok.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×