kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.935
  • EMAS714.000 1,28%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Rampungkan PLTU Tanjung, Adaro Energy (ADRO) siap genjot proyek kelistrikan tahun ini


Minggu, 24 Maret 2019 / 17:45 WIB

Rampungkan PLTU Tanjung, Adaro Energy (ADRO) siap genjot proyek kelistrikan tahun ini
ILUSTRASI. Logo Adaro Energy di gedung kantor pusat ADRO

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adaro Energy Tbk (ADRO), anggota indeks Kompas100 ini, belum menyiapkan rencana aksi korporasi seperti mengakuisisi tambang baru. Hanya saja, di sepanjang tahun ini Adaro akan fokus menggenjot proyek kelistrikan, khususnya untuk merampungkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan pengembangan pada Energi Terbarukan (ET).

Direktur Utama ADRO Garibaldi Thohir mengatakan, pihaknya siap untuk merampungkan proyek PLTU Tanjung Power di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan pada pertengahan tahun ini.


Progresnya, hingga akhir tahun lalu, proses Engineering, Procurement and Construction (EPC) pembangkit berkapasitas 2 x 100 Megawatt (MW) tersebut sudah mencapai 99%.

Pria yang akrab disapa Boy Thohir itu mengungkapkan, pihaknya siap menjalankan unit pertama PLTU Tanjung pada bulan Juli tahun ini. Sementara operasi komersial atau Commercial Operation Date (COD) akan dilakukan pada Agustus 2019.

"Belum ada lagi (rencana aksi korporasi akuisisi tambang). Kita Fokus ada dulu di PLTU. PLTU Tanjung mungkin Juli unit pertama udah jalan, lalu Agustus sudah COD," kata Boy saat ditanya Kontan.co.id, selepas menghadiri acara Cafe CEO di Jakarta, Jum'at (22/3) malam.

Asal tahu saja, PLTU Tanjung dibangun melalui PT Tanjung Power Indonesia (TPI). Yaitu konsorsium PT Adaro Power dan perusahaan asal Korea Selatan, PT East-West Power Indonesia (EWPI).

Total invetasi dari pembangkit tersebut mencapai US$ 545 juta, dengan porsi pembiayaan sebesar 75% dari pinjaman dan 25% dari modal internal.

Selain PLTU Tanjung, lanjut Boy, Adaro pun tengah fokus untuk merampungkan PLTU berkapasitas jumbo di Batang, Jawa Tengah. Hingga akhir tahun lalu, PLTU berkapasitas 2 x 1.000 MW tersebut sudah merampungkan proses EPC sekitar 60%.

Sementara untuk posisi saat ini, Boy bilang progresnya sudah mencapai 70%. Sehingga, ia yakin pembangkit dengan nilai investasi sebesar US$ 4,2 miliar ini bisa COD sesuai target pada medio tahun 2020. "Yang Batang tahun depan, 2020. Sekarang on progres sudah 70%," ungkapnya.

Sebagai informasi, PLTU Batang ini dibangun melalui PT Bhimasena Power Indonesia (BPI). Yaitu perusahaan patungan yang didirikan oleh tiga perusahaan: Electric Power Development Co., Ltd (J-Power), PT Adaro Power, dan Itochu Corporation (Itochu).

Adapun, untuk kedua PLTU ini, Adaro setidaknya akan memasok 8 juta ton batubara dalam setahun. Rinciannya, PLTU Tanjung membutuhkan sekitar 1 juta ton batubara per tahun, sedangkan PLTU Batang bisa menyerap sekitar 7 juta ton setiap tahunnya.

Selain PLTU Tanjung dan PLTU Batang, sambung Boy, Adaro pun telah mengoperasikan PLTU melalui PT Makmur Sejahtera Wisesa, yaitu PLTU Tanjung 2 x 30 MW. "Jadi nanti kita ada 3 (PLTU)," ungkapnya.

Menurut Boy, pengembangan PLTU ini menjadi bagian dari strategi hilirisasi yang diterapkan oleh Adaro. Boy menilai, hilirisasi dengan skema coal to power electricity menjadi yang paling visible untuk dikerjakan pada saat ini, baik dilihat dari teknologi, operasional, maupun keekonomian.

"Betul yang namanya hilirisasi itu sangat penting, mau itu coal to liquid, coal to gas, atau coal to methanol. Tapi menurut hemat saya, hilirisasi yang mempunyai nilai tambah paling besar saat ini adalah coal to power electricity," terang Boy.

Boy mengatakan, listrik memiliki nilai strategis seiring adanya peningkatan kebutuhan, apalagi dengan mulai berkembangnya tren kompor listrik induksi dan kendaraan listrik. "Kebutuhan listrik bertambah, dan sampai saat ini yang paling efisien (sebagai sumber energi) adalah dari batubara," ungkapnya.

Asal tahu saja, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memang masih mengandalkan PLTU Batubara untuk memenuhi kebutuhan kelistrikan. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Tahun 2019-2028 porsi bauran batubara masih dominan dengan 54,6%.

Adapun, kebutuhan batubara diproyeksi hampir selalu meningkat setiap tahun. Pada tahun 2019 ini, kebutuhan batubara untuk kelistrikan diperkirakan mencapai 97 juta ton, dan meningkat mejadi 153 juta ton dalam 10 tahun ke depan.

Hanya saja, selain bersandar pada PLTU batubara, Boy mengatakan bahwa Adaro pun tidak ingin kalah start untuk mengembangkan energi terbarukan. Boy bilang, secara bertahap Adaro akan melihat dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengembangkan pembangkit listrik dari energi bersih ini.

"Kita terbuka untuk berbagai opportunity yang ada, tapi itu mesti secara bertahap untuk kita masuk ke reneweble atau yang lainnya," ujarnya.

Lebih lanjut, Head of Corporate Communications Adaro Energy, Febriati Nadira mengatakan, Adaro tengah mengembangkan listrik dari energi terbarukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Kilowatt per hour (kWh) di Kelanis, Kalimantan Tengah. Namun, PLTS tersebut masih digunakan secara terbatas untuk kebutuhan internal Adaro.

Nadira juga mengatakan, Adaro tengah melakukan study untuk membangun solar power plant di Kalimantan Selatan. "Kita juga sedang mempelajari untuk membangun solar power plant di sebelah TPI (PLTU Tanjung-Kalsel)," katanya kepada Kontan.co.id, Minggu (24/3).

Selain itu, melalui anak usahanya, yakni PT Adaro Power, ADRO pun tengah terlibat dalam tender proyek PLTS di Sumatera. Saat ini, proses yang diikuti Adaro masih dalam pra-kualifiaksi atau pengajuan proposal (Request for Proposal/RFP) kepada PLN. Total proyek yang dibidik Adaro sebesar 122 MW dengan nilai investasi mencapai US$ 150 juta.

Di samping itu, untuk mengembangkan listrik energi bersih ini, Adaro pun telah bekerjasama dengan BUMN listrik Prancis, electricite de France (EDF). Kerjasama tersebut masih dalam tahap studi untuk mengembangkan konsep baru dengan nama hybrid offgrid di Sulawesi Tengah.

Rencananya, pembangkit listrik dengan kombinasi dari biomassa, solar fotovoltaik, dan battery ini akan memiliki kapasitas 6,5 MW.


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana
Editor: Yoyok
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0010 || diagnostic_api_kanan = 0.0540 || diagnostic_web = 0.2714

Close [X]
×