Reporter: Vina Elvira | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus kisaran Rp 18.100 per dolar Amerika Serikat (AS) menambah tekanan bagi industri manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku dan komponen impor.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi, terutama bagi industri dengan tingkat ketergantungan impor yang tinggi, seperti elektronik, otomotif, kimia dan petrokimia, farmasi, hingga industri yang banyak menggunakan komponen plastik.
Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Chandra Wahjudi mengatakan, kenaikan kurs dolar AS secara langsung berdampak terhadap biaya pengadaan bahan baku, kebutuhan modal kerja, hingga biaya logistik perusahaan.
Baca Juga: Apindo Sebut Target Utilisasi Industri 80%-85% Cukup Ambisius
Di sisi lain, pelaku industri belum leluasa meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen melalui penyesuaian harga jual. Pasalnya, daya beli masyarakat masih relatif lemah dan persaingan pasar semakin ketat.
“Akibatnya, sebagian besar perusahaan memilih menyerap kenaikan biaya melalui pengurangan margin keuntungan, efisiensi operasional, diversifikasi pemasok, peningkatan penggunaan bahan baku lokal, serta strategi melakukan hedging untuk mengurangi risiko fluktuasi kurs," ujar Chandra kepada Kontan.co.id, Jumat (30/10/2026).
Menurut Chandra, apabila nilai tukar rupiah bertahan di atas Rp 18.000 per dolar AS hingga akhir tahun, tekanan terhadap sektor manufaktur diperkirakan semakin berat.
Selain berpotensi menggerus profitabilitas, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi keputusan bisnis pelaku industri.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.100, APINDO Minta Insentif Hedging untuk Industri Padat Karya
Mulai dari menunda ekspansi dan investasi baru, mengurangi utilisasi kapasitas produksi, hingga lebih berhati-hati dalam melakukan pengembangan usaha.
Chandra menambahkan, industri yang paling rentan adalah perusahaan yang berorientasi pasar domestik, memiliki kandungan impor tinggi, dan beroperasi dengan margin yang relatif tipis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














