kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Sirkular ekonomi sampah masih berkutat pada sirkular polusi


Minggu, 16 Desember 2018 / 17:01 WIB

Sirkular ekonomi sampah masih berkutat pada sirkular polusi
ILUSTRASI. Mengolah sampah menjadi bernilai ekonomi (Sirkular Ekonomi)

Daur ulang hingga inovasi produk

Triliunan rupiah berpotensi didapatkan dari sampah plastik. Namun itu tidak mudah karena sistem pengumpulan sampah di Indonesia hanya mengandalkan sektor informal. Alih-alih menghasilkan duit, sampah justru lebih banyak membawa petaka bagi kelestarian lingkungan. Korporasi pun dituding sebagai biang kerok maraknya sampah plastik. Benarkah selama ini mereka abai?

Organisasi konservasi laut global Oceana, mencatat setidaknya ada 17,6 miliar pon sampah plastik memasuki lautan setiap tahun. Hal itu terjadi karena korporasi terus-menerus menggunakan kemasan plastik. Kalau terus dibiarkan, tahun 2025 nanti jumlah sampah plastik di laut bakal melebihi jumlah ikan yang ada di dalamnya.

Sejumlah korporasi besar pun angkat bicara. Mereka tak terima dituding sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan. 

Karyanto Wibowo, Sustainable Development Director Danone AQUA mengatakan, material plastik sudah ada sejak sekitar tahun 1900 dan mulai banyak digunkan pada era Perang Dunia II. Sementara 100 tahun yang lalu belum timbul masalah pencemaran lingkungan. "Jadi bukan di kaminya karena kami sekarang justru reinvent, rethink dan redesign," kilah dia, saat ditemui akhir Oktober lalu.

Adapun Danone AQUA atau yang berbadan usaha PT Tirta Investama, mengklaim sudah memulai kampanye peduli lingkungan sejak tahun 1993. Kalau itu mereka mengusung jargon AQUA Peduli.

Sementara tahun ini, Danone AQUA mulai merencanakan sejumlah investasi dan inovasi produk baru. Belum lama ini, perusahaan yang menginduk pada Danone di Prancis tersebut mengucurkan dana investasi multi tahun senilai US$ 5,25 juta untuk membangun infrastruktur dan sistem pengumpulan sampah.

Lalu awal tahun 2019 Danone AQUA bersiap melakukan groundbreaking atau penanaman tiang pancang pembangunan pabrik daur ulang sampah plastik di Pasuruhan Jawa Timur dengan nilai investasi lebih dari US$ 20 juta. Pabrik berkapasitas sekitar 30.000 ton per tahun tersebut adalah kongsi dengan Veolia, perusahaan pengolah sampah dari Prancis. Target operasionalnya mulai tahun 2020.

Lewat pabrik baru di Pasuruhan, Danone AQUA menargetkan bisa memproduksi lebih banyak botol dengan bahan baku plastik daur ulang. Perusahaan tersebut sudah menjajal produksi botol minuman 1,1 liter berbahan baku 100% daur ulang recycled polyethylene therepthalate (rPET). Desember 2018 ini mereka siap merilis secara komersial produk itu dalam skala kecil di Bali.

Selain investasi tadi, Danone AQUA telah mengembangkan enam recycled business unit (RBU) atau pusat daur ulang yang tersebar di Bali, Lombok, Bandung dan Tangerang (Banten). Total kapasitas produksinya mencapai 12.000 ton plastik daur ulang per tahun.

Namun Danone AQUA mengaku penciptaan produk daur ulang bukan perkara mudah. Teknologi yang lebih canggih menuntut ongkos produksi lebih mahal. Harga produk AQUA 100% rPET tadi contohnya, kurang lebih 25% lebih mahal ketimbang produk AQUA reguler.

Tantangan lain adalah ketersediaan bahan baku daur ulang yang masih terbatas dan upaya untuk meyakinkan konsumen. "Hasil riset kami, mayoritas konsumen Indonesia masih mempersepsi produk dengan kemasan daur ulang plastik itu sebagai produk yang kotor dan mestinya berharga murah," terang Karyanto.

Korporasi lain, yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk juga sudah memanfaatkan produk yang ramah terhadap lingkungan. Sejak lima tahun belakangan, perusahaan berkode saham INDF di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut menggunakan karung tepung Bogasari berbahan biodegradable atau gampang terurai dalam dua tahun.

Indofood juga menghadapi tantangan serupa dengan Danone AQUA dari sisi harga kemasan yang menjadi lebih mahal ketimbang kemasan reguler. Manajemen perusahaan menggambarkan, harga karung tepung Bogasari biodegradable lebih mahal seharga sepuntung rokok ketimbang karung tepung reguler. 

Tantangan lain dari sisi regulasi. Indofood merasa, sejauh ini pemerintah tidak punya arah yang jelas mengenai kebijakan sampah plastik yang mesti diterapkan pelaku industri. Bahkan, mayoritas pelaku industri belum menerapkan kebijakan tersebut. "Sementara karung kami sudah biodegradable, karung tepung lain, pupuk, pakan ternak banyak yang belum, termasuk yang punya BUMN," kata Franciscus Welirang, Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk sekaligus Chief Executive Officer PT Bogasari Flour Mills saat dihubungi KONTAN.

Asal tahu, selain mengembangkan inovasi produk sendiri, Indofood yang tergabung dalam aliansi bernama Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment (PRAISE) juga mengembangkan agenda bersama untuk mengatasi penggunaan plastik. PRAISE beranggotakan Indofood, PT Coca Cola Indonesia, PT Nestle Indonesia, PT Tetra Pak Indonesia, Danone AQUA dan Yayasan Unilever Indonesia.

 


Reporter: Anastasia Lilin Y
Editor: Anastasia Lilin

Video Pilihan


Close [X]
×