Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) membukukan laba bersih tertinggi sepanjang perusahaan berdiri. Produsen pipa baja yang dikenal dengan nama Spindo ini meraih laba bersih sebesar Rp 534,24 miliar pada tahun 2025.
Keuntungan Spindo tumbuh tipis 0,78% secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan laba bersih pada 2024, yang kala itu tercatat sebesar Rp 530,08 miliar.
Rekor laba bersih ini justru tercapai ketika penjualan dan pendapatan jasa Spindo mengalami penurunan.
Penjualan dan pendapatan jasa Spindo menyusut 2,94% (yoy) dari Rp 6,11 triliun menjadi Rp 5,93 triliun pada tahun lalu.
Baca Juga: Laba Spindo (ISSP) Tumbuh Tipis Jadi Rp 534 Miliar Saat Pendapatan Susut pada 2025
Corporate Secretary & Investor Relations Chief Strategy & Business Development Officer Spindo, Johanes W. Edward menjelaskan bahwa penurunan pendapatan ISSP dipengaruhi oleh pelemahan harga acuan Hot Rolled Coil (HRC) global.
Rata-rata harga HRC mengalami penurunan sekitar 13% sepanjang tahun lalu. Di tengah pelemahan harga acuan HRC tersebut, Johanes menegaskan bahwa dampak terhadap kinerja ISSP relatif tidak signifikan.
Dus, Spindo pun mampu menjaga rekor laba bersih tertinggi selama tiga tahun berturut-turut.
Meski pendapatan menurun, tapi margin laba kotor dan margin laba bersih ISSP masing-masing meningkat menjadi 19,1% dan 9%. Johanes menekankan bahwa hasil ini mencerminkan efektivitas strategi efisiensi dan pengendalian biaya di tengah tekanan harga baja global.
"Kinerja Perseroan relatif tidak terdampak signifikan oleh fluktuasi harga tersebut, yang menunjukkan ketahanan model bisnis dan kemampuan penyesuaian strategi penjualan," terang Johanes saat dihubungi Kontan.co.id, Rabu (18/2/2026).
Johanes menambahkan, beban operasional ISSP meningkat sekitar 6% (yoy). Terutama didorong kenaikan biaya penjualan dan distribusi sekitar 20% (yoy), akibat pengiriman proyek berbasis kontrak dan ekspor. Namun, ISSP mampu menekan beban keuangan sebesar 3% (yoy) melalui penurunan bunga pinjaman dan biaya administrasi.
Baca Juga: Spindo (ISSP) Kejar Laba Hingga Rp 600 Miliar pada 2025, Bagaimana Target 2026?
Johanes menegaskan bahwa strategi pengendalian biaya yang disiplin menjaga profitabilitas ISSP tetap stabil di tengah dinamika industri baja global. Di sisi yang lain, sebagai bagian dari strategi ekspansi, Gudang Plant 7 di Gresik telah beroperasi sebagai North Distribution Centre sejak Agustus 2024.
Sementara itu, fasilitas produksi telah selesai dibangun dan saat ini menunggu kedatangan mesin 8 inci. "Hal ini akan memungkinkan Perseroan memproduksi varian produk bernilai tambah dan margin lebih tinggi," imbuh Johanes.
Target & Strategi ISSP Tahun 2026
Memasuki tahun 2026, Johanes sebelumnya mengungkapkan bahwa ISSP mengusung target yang cukup konservatif. Pada tahun ini, ISSP mengejar target pertumbuhan 5% - 10% untuk volume penjualan dan laba bersih.
Sedangkan nilai penjualan ISSP akan bergantung pada harga jual rata-rata atau Average Selling Price (ASP), yang bakal dipengaruhi oleh fluktuasi harga baja dunia.
"Industri baja pada 2026 sebetulnya menjanjikan. Namun, tahun ini jelas banyak juga tantangan yang mengadang," kata Johanes saat dihubungi Kontan.co.id pada bulan lalu.
Johanes memperkirakan ada cukup banyak proyek potensial yang berpeluang mendongkrak penjualan ISSP pada tahun ini. Tetapi, dia belum merinci tender proyek mana saja yang akan diikuti. Johanes hanya memberikan gambaran bahwa target pasar ISSP masih menyasar sektor infrastruktur, konstruksi, tambang, otomotif serta minyak & gas.
Baca Juga: Spindo (ISSP) Fokus Rampungkan Ekspansi Pabrik Baru pada Sisa Tahun Ini
"Sejauh ini kami melihat strategi tahun sebelumnya masih dapat diterapkan dengan improvement yang lebih baik, yakni pendekatan kepada pelanggan, mengintensifkan kunjungan ke customer dan meningkatkan branding lewat sosial media," ujar Johanes.
Selain berupaya mendongkrak volume penjualan dan laba, pada tahun ini ISSP akan fokus menyelesaikan proyek ekspansi unit produksi ke-7 (Unit 7).
Pengoperasian proyek yang berlokasi di Gresik, Jawa Timur ini akan dilakukan secara bertahap, ditandai dengan pemasangan dua mesin Electric Resistance Welded (ERW) berteknologi tinggi.
Secara keseluruhan, ISSP mengucurkan investasi sekitar Rp 1,3 triliun untuk Proyek Unit 7. Pendanaan berasal dari kas internal, dengan merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) dalam beberapa tahun (multi-years).
Johanes menggambarkan, pada tahun lalu ISSP mengalokasikan capex sekitar Rp 700 miliar. Sementara pada tahun ini, alokasi capex untuk Proyek Unit 7 diproyeksikan menyerap anggaran Rp 300 miliar.
ISSP masih mengucurkan capex untuk Unit 7 pada tahun 2027, dengan anggaran sekitar Rp 80 miliar untuk kelanjutan proyek dan pengembangan fasilitas lainnya. Selain ekspansi untuk menambah kapasitas produksi melalui Unit 7, ISSP juga sedang membangun fasilitas depo baru di Plant 5, Karawang.
Baca Juga: Menilik Kontribusi Proyek Unit 7 yang Bakal Dongkrak Kinerja Spindo (ISSP)
Pembangunan Depo Karawang menjadi bagian dari strategi ISSP dalam memperkuat daya saing dan memperluas jangkauan pasar domestik. Ekspansi ini merupakan upaya ISSP untuk memperkuat jaringan distribusi dan meningkatkan efisiensi layanan logistik di wilayah Jakarta dan Jawa Barat.
Proyek ini menjadi bagian dari fokus capex ISSP, yang secara keseluruhan diproyeksikan mencapai sekitar Rp 400 miliar sepanjang tahun 2026.
"Tahun 2026 keseluruhan capex sekitar Rp 400 miliar. Untuk Unit 7 sekitar Rp 300 miliar dan Rp 100 miliar untuk keperluan yang lainnya, termasuk Depo Karawang," tandas Johanes.
Selanjutnya: Ini Respon Menkeu Purbaya Soal Usulan IMF Terkait Kenaikan Pajak Karyawan
Menarik Dibaca: Provinsi Ini Hujan Amat Lebat, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (19/2)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)