kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.870   -65,00   -0,36%
  • IDX 5.821   -75,34   -1,28%
  • KOMPAS100 752   -12,33   -1,61%
  • LQ45 573   -10,72   -1,84%
  • ISSI 201   -1,70   -0,84%
  • IDX30 325   -6,09   -1,84%
  • IDXHIDIV20 401   -6,69   -1,64%
  • IDX80 86   -1,38   -1,59%
  • IDXV30 108   -1,25   -1,14%
  • IDXQ30 105   -1,88   -1,76%

Berjalan 1 Juli 2026, B50 Mesti Dibarengi Penguatan Ekosistem Industri Biodiesel


Senin, 29 Juni 2026 / 21:12 WIB
Berjalan 1 Juli 2026, B50 Mesti Dibarengi Penguatan Ekosistem Industri Biodiesel
ILUSTRASI. Target penggunaan bahan bakar B50 nasional (ANTARA FOTO/ABDAN SYAKURA)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli

Di samping itu, kualitas bahan bakar juga mesti memenuhi spesifikasi, sehingga tidak mengganggu keandalan mesin maupun operasional usaha konsumen B50.

Dus, tantangan utama implementasi B50 bukan pada permintaan, melainkan pada kemampuan menjaga kontinuitas pasokan dan kualitas produk.

Menurut Kholid, masyarakat pada umumnya akan menerima B50 apabila tidak ada perbedaan signifikan dalam performa kendaraan serta tidak menimbulkan kendala dalam penggunaan sehari-hari.

Baca Juga: B50 Jadi Solusi Krisis Energi, Pemerintah Siapkan Implementasi 2026

"Keberhasilan B50 tidak hanya diukur dari besarnya volume biodiesel yang diserap, tetapi juga dari kemampuannya menjaga keseimbangan antara ketahanan energi, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan industri dalam jangka panjang," tegas Kholid.

Anggota DEN Unsur Pemangku Kepentingan dari Kalangan Lingkungan Hidup, Saleh Abdurrahman menambahkan bahwa implementasi program B50 merupakan tahapan krusial untuk menghentikan impor solar dan memperkuat ketahanan energi.

Catatan Saleh, kebutuhan penambahan CPO sebagai bahan baku biodiesel harus diupayakan semaksimal mungkin dilakukan melalui peningkatan produktivitas lahan sawit dan mengurangi pembukaan lahan baru. 

"Juga perlu diantisipasi bahwa peningkatan pemanfaatan CPO untuk biodiesel tidak mempengaruhi nilai ekspor karena sumber pendanaan atau insentif biodiesel saat ini dari pungutan ekspor," ungkap Saleh.

Head of Industrial & Transport Decarbonization Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho punya catatan serupa. Menurut Andry, perlu ada antisipasi terhadap pengalihan pasokan CPO untuk kebutuhan bahan baku campuran B50.

Baca Juga: Pemerintah Terapkan B50 Mulai Juli 2026, Begini Respons Apindo

Andry mengingatkan, hal tersebut bisa mengurangi volume ekspor sehingga bisa memangkas pemasukan yang diperoleh negara dari ekspor CPO.

Di dalam negeri, pemerintah mesti memastikan pasokan bahan baku untuk program B50 tidak mengurangi ketersediaan CPO yang digunakan untuk kebutuhan dalam negeri, terutama untuk minyak goreng.

Di sisi lain, Andry menyoroti soal ketahanan fiskal pemerintah apabila terjadi peningkatan subsidi solar di tengah berkurangnya pembiayaan atau insentif yang berasal dari pungutan ekspor CPO.

Pada saat yang sama, Andry juga mengamini pentingnya memperkuat ekosistem industri pendukung biodiesel di dalam negeri.

Dalam hal ini, Andry menyoroti potensi lonjakan impor metanol karena kapasitas produksi di dalam negeri masih terlampau jauh untuk mencukupi kebutuhan program B50. Andry memproyeksikan, kebutuhan impor metanol bisa mencapai 2,5 juta ton.

"Jadi jangan sampai program yang direncanakan untuk memangkas impor solar ini justru di sisi lain menambah impor metanol. Ini salah satu tantangan dalam pengembangan B50. Jadi, keberlanjutan dan ketahanan fiskal, serta kecukupan bahan baku itu mesti menjadi perhatian," ujar Andry.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman menegaskan bahwa pemerintah akan memulai implementasi B50 pada 1 Juli 2026. Program ini rencananya akan diluncurkan secara langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.

Baca Juga: Bahlil: Kesiapan B50 Sudah 70%, Dicoba ke Alat Berat hingga Kereta Api

Laode mengatakan, pemerintah memberi masa transisi selama tiga bulan sebelum sepenuhnya beralih dari B40 menjadi B50.

"(Berlaku) secara nasional, tentu ada masa untuk penyesuaian. Jadi artinya kan masih ada sisa-sisa B40, itu dihabiskan dulu. Diberi waktu sampai dengan tiga bulan penyesuaian hingga menjadi 100% ke B50," kata Laode, Jumat (26/6/2026).

Soal harga, Laode memastikan harga B50 di pasaran tidak mengalami perubahan dengan harga solar B40 sebelumnya. "Kalau harga kan mengikuti harga BBM yang sudah biasanya saja, nggak ada hal khusus.

Kan hitungannya diesel, kayak harga solar. Formula yang sekarang kami jalankan masih mengikuti seperti yang sebelumnya," tandas Laode.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×