Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Blok Rokan kembali menjadi tulang punggung produksi minyak nasional. Meski sempat tersalip Blok Cepu pada November 2025, hingga akhir Desember lalu produksi minyak PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) kembali menjadi yang terbesar di Indonesia.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Djoko Siswanto menyampaikan, per 23 Desember 2025 produksi minyak PHR mencapai sekitar 151.000 barel minyak per hari (bph).
Angka tersebut menempatkan Blok Rokan kembali di posisi teratas, mengungguli Blok Cepu yang dioperasikan PT ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dengan produksi sekitar 146.000–147.000 bph.
“Per 23 Desember 2025 produksi minyak Pertamina Hulu Rokan itu 151.000 barel oil per day. Yang kedua adalah ExxonMobil, sekitar 146.000–147.000 bph. Jadi tetap nomor satu PHR,” ujar Djoko saat ditemui Kontan akhir Desember 2025.
Baca Juga: Pertamina Temukan Cadangan Migas Jumbo 724 Juta Barel di Blok Rokan
Sebelumnya, berdasarkan data SKK Migas per November 2025, EMCL sempat menyalip PHR. Produksi minyak Blok Cepu tercatat mencapai 153.932 bph, sementara Blok Rokan berada di level 151.053 bph.
Fluktuasi ini menunjukkan dinamika kinerja dua blok migas utama nasional yang sama-sama berkontribusi signifikan terhadap produksi minyak Indonesia.
Untuk menjaga keberlanjutan produksi, PHR terus mendorong inovasi teknologi di Blok Rokan. Pada 23 Desember 2025, PHR meresmikan Proyek Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) Lapangan Minas Area A di Zona Rokan.
Lapangan Minas merupakan lapangan migas tua yang telah berproduksi sejak 1952, namun masih menyimpan potensi cadangan besar di bawah permukaan.
Melalui penerapan teknologi CEOR, PHR menargetkan peningkatan perolehan minyak sebesar 12% hingga 16% dari Original Oil in Place (OOIP).
Djoko menyatakan, Lapangan Minas memiliki arti penting dalam sejarah industri hulu migas nasional dan hanya dapat dipertahankan produksinya melalui inovasi teknologi.
Baca Juga: Teknologi AI Bantu Pertamina Tekan Penurunan Produksi Migas di Blok Rokan
Proyek CEOR Minas Area A juga membuka peluang pengembangan teknologi serupa di area lain Wilayah Kerja Rokan, seperti Minas Area B, C, dan D, Balam South, Balam, Bangko, hingga Petani.
Dari sisi produksi, CEOR ini diproyeksikan berkontribusi sekitar 70.000 bph pada 2030 dan mencapai puncak produksi hingga 200.000 bph pada 2036.
Di sisi lain, EMCL juga menunjukkan kinerja kuat dari Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu dengan program Banyu Urip Infill Clastic (BUIC), yang menargetkan tambahan lapisan reservoir klastik.
Seluruh sumur dalam program ini telah mulai berproduksi dan akan terus dioptimalkan. Untuk 2026, EMCL mematok target produksi sekitar 145.000 bph, meski masih akan dievaluasi seiring kinerja sumur-sumur baru.
Baca Juga: Bahlil Naikkan Bagi Hasil PHR di Blok Rokan Jadi 84%
Praktisi migas Hadi Ismoyo menilai, dinamika saling salip produksi antara Blok Rokan dan Blok Cepu merupakan persaingan sehat dalam mendorong target produksi migas nasional.
Menurutnya, karakter kedua blok sangat berbeda. Blok Cepu merupakan pengembangan lapangan relatif baru dengan dua lapangan utama, sementara Blok Rokan merupakan wilayah kerja mature dengan banyak lapangan, seperti Minas, Duri, Bangko, Bakasap, Balam South, Petani, dan Pematang.
“Rokan punya banyak pilihan untuk meningkatkan produksi dalam jangka panjang melalui inovasi berbasis sumur maupun reservoir, seperti EOR. Dengan dukungan pemerintah dari sisi operasional dan insentif komersial, Rokan diperkirakan lebih sustain,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (6/1/2026)
Founder dan Advisor ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto menambahkan, fenomena saling salip produksi lebih dipengaruhi oleh faktor teknis, seperti jadwal onstream sumur baru atau gangguan operasional.
Baca Juga: Bahlil Naikkan Jatah Bagi Hasil PHR di Blok Rokan Menjadi 84%
Secara keseluruhan, Blok Rokan dan Blok Cepu sama-sama merupakan lapangan mature dan tetap menjadi tulang punggung lifting minyak nasional.
Ke depan, kinerja kedua blok ini akan sangat bergantung pada investasi eksplorasi dan pengembangan cadangan tersisa.
Pemerintah sendiri menargetkan lifting minyak sebesar 610.000 bph pada 2026, dengan Blok Rokan dan Blok Cepu menjadi kontributor utama.
Selanjutnya: Dapen BPD Jateng Jual Sebagian Saham, Begini Gerak Saham YOII
Menarik Dibaca: 8 Mitos tentang Kolesterol yang Tidak Perlu Dipercaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












