Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Trans Power Marine Tbk (TPMA) menyiapkan sejumlah strategi untuk memitigasi dampak dari pemangkasan kuota produksi batubara nasional pada 2026. TPMA berupaya mengerem laju penurunan kinerja dengan memacu efisiensi operasional dan utilisasi armada.
Direktur Trans Power Marine, Rudy Sutiono mengungkapkan pemangkasan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 menjadi tantangan bagi perusahaan yang bergerak di industri batubara, tak terkecuali untuk jasa angkut. Termasuk TPMA yang mayoritas pendapatannya bersumber dari pengangkutan batubara.
Rudy menggambarkan bahwa batubara masih menjadi andalan TPMA dengan kontribusi mencapai 80%-90% terhadap pendapatan. Pada tahun lalu, kontribusi dari segmen pengangkutan batubara bahkan mencapai 94,3%.
Baca Juga: Harga LNG Global Melonjak, Indonesia Diminta Fokus Amankan Pasokan Energi
Dalam situasi tersebut, TPMA masih bisa menjaga kinerja dengan pendapatan yang relatif stabil, hanya turun tipis 0,41% secara tahunan dari US$ 26,48 juta menjadi US$ 26,37 juta pada kuartal I-2026. Namun, TPMA hanya meraih laba bersih senilai US$ 776.479.
Keuntungan TPMA turun tajam dibandingkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada kuartal I-2025 yang kala itu mencapai US$ 5,79 juta. Rudy membenarkan, persetujuan RKAB menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja TPMA pada awal 2026.
Hanya saja, Rudy meyakinkan bahwa ruang perbaikan mulai terbuka seiring dengan persetujuan RKAB yang diberikan pemerintah kepada para penambang yang menjadi klien TPMA. Dengan persetujuan RKAB yang sudah diperoleh pada akhir kuartal pertama dan awal kuartal kedua, Rudy optimistis TPMA bisa mencapai perbaikan kinerja.
Permintaan batubara yang masih kuat baik di pasar ekspor maupun domestik bakal menjadi penopang kinerja TPMA pada sisa tahun ini. "Peluang-peluang yang ada itu bisa membuat kami bertahan dan bertumbuh. Walau kami tidak bisa menjanjikan berapa performa yang bisa dicapai. Tapi kami yakin bisa mencapai lebih baik lagi apabila ada kesempatan dan kondisi yang memungkinkan," kata Rudy dalam paparan publik pada Selasa (19/5/2026).
Baca Juga: GOTO Siapkan 4 Strategi Untuk Respon Prespres Ojol, Skema Bagi Hasil Akan Disesuaikan
Direktur Utama Trans Power Marine, Ronny Kurniawan menyatakan selain faktor kuota produksi dan persetujuan RAKB, tantangan juga datang dari lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Ronny bilang, harga BBM membawa dampak yang cukup signifikan terhadap biaya operasional. Di sisi lain, harga pengiriman (freight) mengalami penurunan.
Dengan asumsi tantangan tersebut terus membayangi sampai akhir tahun, TPMA mengusung target konservatif untuk setidaknya bisa mengerem laju penurunan kinerja dibandingkan tahun lalu.
"Pada 2025 itu kami mendapatkan net profit konsolidasi hampir US$ 20 juta, turun sekitar 30% dari 2024. Pada 2026 kami akan mencoba untuk menjaga penurunannya tidak lebih dari 20%," ungkap Ronny.
Menghadapi situasi ini, TPMA akan fokus menjaga arus kas agar tetap sehat serta tingkat leverage utang tetap rendah. Menurut Ronny, strategi ini penting untuk menjaga daya saing TPMA di tengah ketidakpastian geopolitik dan dunia usaha.
"Kunci daripada bisnis ini adalah harus efisien dan low leverage. Salah satu yang membedakan kami dengan perusahaan sejenis adalah biaya bunga. Kalau biaya bunga tinggi, enggak akan bisa bersaing," ujar Ronny.
Menunggu Tambahan Armada
Rudy menambahkan, TPMA juga akan memacu utilisasi armada dengan operasional pengangkutan yang efektif dan efisien. TPMA merancang strategi dan terus berkomunikasi intensif dengan para klien agar setiap kapal yang mengangkut komoditas ke suatu daerah bisa tetap membawa muatan dalam posisi pergi maupun pulang.
"Sampai saat ini, utilisasi cukup menggembirakan, artinya kapal kami tidak ada yang nganggur, semua bekerja. Harapan kami, ke depan sampai akhir tahun harusnya bisa juga kapal-kapal ini tetap bekerja," imbuh Rudy.
Sampai dengan akhir 2025, TPMA memiliki jumlah armada konsolidasi sebanyak 92 unit kapal tunda (tug boat), 82 unit kapal tongkang (barges) dan 5 unit floating crane. Sementara armada non-consilidated tercatat sebanyak 60 unit tug boat, 51 unit barges dan 1 unit tanker.
Pada tahun ini, Rudy menyatakan bahwa TPMA tidak memiliki rencana untuk melakukan pembelian armada baru. Namun, jumlah armada TPMA akan bertambah dari pembelian yang sudah dilakukan pada 1-2 tahun sebelumnya.
Pada tahun 2026, TPMA dan entitas anak yang terkonsolidasi akan menerima 7 unit kapal tunda dan 9 unit tongkang yang telah dipesan pada tahun-tahun sebelumnya. Total belanja modal untuk memesan kapal tersebut mencapai sekitar US$ 25 juta.
"Kami melihat kondisi yang ada. Jadi kami hanya melanjutkan pada pesanan yang sudah kami lakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Saat ini kami tinggal menunggu kedatangan kapal," tandas Rudy.
Meski sedang menghadapi sejumlah tantangan, TPMA tetap membagi dividen untuk para pemegang sahamnya. TPMA mengucurkan dividen sebesar Rp 146,85 miliar atau sekitar 47,5% dari laba bersih tahun buku 2025. Jumlah itu setara dengan dividen tunai Rp 42 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













