Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
Andalkan Portofolio Proyek Eksisting
Masih pada pekan yang sama, Rabu (4/2/2026), Intiland turut menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara sejumlah pengembang dengan PT MRT Jakarta (Perseroda).
Melalui entitas anak PT Sinar Puspapersada, Intiland mendukung studi potensi dan pengembangan kawasan terpadu atau Transit-Oriented Development (TOD) di jalur MRT Lintas Timur - Barat Fase 2.
Direktur Utama Intiland Development, Archied Noto Pradono mengatakan, penandatanganan MoU ini menjadi langkah awal DILD mengeksplorasi peluang kolaborasi dalam pengembangan kawasan properti terpadu di sepanjang jalur MRT Lintas Timur - Barat, khususnya segmen Kembangan – Balaraja.
Kerja sama ini fokus pada kajian perencanaan terpadu, termasuk identifikasi potensi penempatan stasiun MRT yang terintegrasi dengan proyek kawasan Talaga Bestari, serta eksplorasi skema bisnis dan struktur proyek yang berkelanjutan secara jangka panjang.
Baca Juga: Intiland (DILD) Perkuat Struktur Keuangan Melalui Strategi Deleveraging
Theresia melanjutkan, strategi bisnis Intiland tahun 2026 diarahkan pada prioritas menjaga keberlanjutan penjualan di proyek-proyek yang sudah berjalan. Oleh sebab itu, Intiland akan mengandalkan kontribusi dari portofolio existing, baik segmen pengembangan perumahan maupun kawasan industri.
Emiten properti yang sahamnya juga dimiliki oleh investor kenamaan, Lo Kheng Hong ini akan fokus pada optimalisasi penjualan proyek berjalan. Antara lain Regatta, Sakha Semanan di wilayah Jakarta.
Sementara di wilayah Surabaya, Intiland memiliki proyek klaster Alba di Graha Famili, Graha Natura, dan Amesta Living.
Selain itu, Intiland juga terlibat dalam salah satu proyek pengembangan kawasan di Ibu Kota Nusantara (IKN). "Terkait IKN, saat ini kami memastikan seluruh proses persiapan dilakukan secara matang agar pengembangan proyek dapat berjalan sesuai rencana dan ketentuan yang berlaku," kata Theresia.
Di segmen kawasan industri, Intiland memiliki dua proyek utama, yaitu Ngoro Industrial Park (Mojokerto, Jawa Timur) dan Batang Industrial Park (Jawa Tengah). Selain itu, Intiland juga memiliki portofolio proyek pergudangan Aeropolis Technopark di Tangerang.
Intiland memandang kawasan industri di Indonesia masih memiliki daya tarik sebagai basis produksi regional, sehingga membuka peluang penyerapan investasi dari penanaman modal asing maupun domestik. Sejalan dengan kebijakan Pemerintah, Intiland memperkirakan permintaan kawasan industri pada 2026 tetap didominasi sektor manufaktur.
Baca Juga: HKI, DILD, BEST, KIJA & SSIA Ungkap Sektor Potensial yang Bakal Investasi pada 2026
Peluang permintaan terutama datang dari sub sektor yang mendukung penguatan pasar domestik dan substitusi impor seperti logam dasar, makanan dan minuman, kimia, serta farmasi.
Guna menangkap peluang tersebut, Theresia menekankan bahwa Intiland mengembangkan kawasan industri yang selaras dengan kebijakan pemerintah dan kebutuhan investor.
Intiland fokus pada kesiapan infrastruktur, keandalan utilitas, dan fleksibilitas lahan. "Daya tarik kawasan industri Intiland terus meningkat seiring dengan tren relokasi dan ekspansi industri yang membutuhkan infrastruktur siap pakai serta lokasi yang strategis," tandas Theresia.
Selanjutnya: Strategi BCA Mengikat Nasabah Lewat BCA Expoversary 2026
Menarik Dibaca: 6 Alasan Tidur Bisa Bikin Berat Badan Turun yang Jarang Diketahui
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Kawasan Industri
- recurring income
- pusat data
- data center
- IKN
- Ibu Kota Nusantara
- Intiland Development
- Ion Network
- DILD
- Strategi Diversifikasi
- Talaga Bestari
- DC Land
- Ekonomi Digital Surabaya
- Intiland Tower Surabaya
- Optimalisasi Aset Properti
- Proyek Properti Intiland
- TOD MRT Jakarta
- Lo Kheng Hong Saham DILD
- Pengembangan Properti 2026
- Proyek Eksisting Intiland












