Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku usaha di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) yang tergabung dalam Indonesian Petroleum Association menyoroti tiga hal krusial yang akan berdampak terhadap daya saing dan minat investasi di Indonesia. IPA memandang prospek hulu migas masih menarik, namun masih memerlukan eksplorasi yang aktif dan masif.
Direktur Eksekutif IPA Marjolijn Wajong mengungkapkan bahwa Indonesia masih memiliki peluang besar untuk meningkatkan cadangan dan produksi migas nasional. Pasalnya, lebih dari 50% cekungan migas di Indonesia saat ini belum dieksplorasi.
Sebab, cekungan tersebut berada di daerah yang sulit dijangkau, sehingga membutuhkan investasi besar untuk melakukan eksplorasi di wilayah tersebut.
"Lokasi (cekungan) itu di tempat laut dalam, atau di (daerah) timur yang infrastrukturnya masih kurang. Di daerah barat yang cukup banyak infrastruktur, tapi tingkat kesulitan teknis besar. Pada umumnya (di lokasi) yang sulit, jadi memerlukan teknologi dan biaya yang besar," ungkap Marjolijn dalam konferensi pers IPA Convex 2026, Selasa (12/5/2026).
Tak bisa hanya bertumpu pada lapangan migas yang sudah ada, Marjolijn menegaskan Indonesia memerlukan penemuan cadangan-cadangan migas baru untuk bisa mengejar target produksi nasional.
Baca Juga: Harga Batubara Naik, PT Bukit Asam (PTBA) Optimistis Margin Profit Bakal Menebal
"Tidak cukup hanya mengandalkan proyek yang sudah berjalan. Diperlukan eksplorasi yang lebih agresif serta kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku industri," tegasnya.
Menimbang kebutuhan investasi dan risiko eksplorasi yang tinggi, Marjolijn menyatakan bahwa pelaku usaha di sektor hulu migas menyoroti tiga hal krusial untuk bisa menarik minat investor dan meningkatkan daya saing dibandingkan negara lain.
Pertama, kepastian hukum. Marjolijn menekankan pentingnya diskusi hingga kompensasi jika di tengah masa kontrak pemerintah melakukan perubahan regulasi yang tidak diatur dalam perjanjian.
Marjolijn mencontohkan perubahan kebijakan mengenai penggunaan devisa hasil ekspor hingga pengaturan penjualan hasil produksi bagian kontraktor. "Kami memahami, peraturan-peraturan itu dibuat pasti ada sebabnya. Tetapi mungkin ada semacam negosiasi atau kompensasi seperti apa bisa dibicarakan sehingga bisnis tetap dalam keadaan baik," ujar Marjolijn.
Kedua, percepatan proses perizinan. Marjolijn mengatakan bahwa proses perizinan yang cepat akan sangat memengaruhi realisasi produksi. Hal ini kemudian akan berdampak terhadap keekonomian proyek maupun daya tarik investasi.
"Investor kan menaruh uang, dia mau kembalinya cepat, jadi produk juga harus cepat. Kalau proses (perizinan) lama, itu akan membuat keekonomian dan daya tarik berkurang," imbuh Marjolijn.
Ketiga, skema fiskal yang kompetitif dan dapat membantu meningkatkan keekonomian proyek. "Kita memerlukan terobosan-terobosan baru untuk membuat fiskal lebih menarik. Kami ingin pemerintah untuk memperbaiki (tiga hal) itu. IPA juga sedang melakukan studi untuk melihat di negara lain seperti apa ketiga hal tersebut," ujar Marjolijn.
Baca Juga: Chandra Daya (CDIA) Perkuat Bisnis Logistik melalui Bersandarnya Kapal Novah
IPA Convex 2026
Sebagai forum untuk membahas tantangan, peluang, dan berbagai capaian di industri hulu migas, IPA akan kembali menggelar Convention and Exhibition (Convex). Pada tahun ini, IPA Convex diadakan untuk ke-50 kalinya dengan mengusung tema "50 Years of Energy Partnership: Shaping the Next Era for Advancing Growth".
Ketua Panitia IPA Convex 2026 Teresita Listyani mengungkapkan bahwa agenda ini melibatkan ekosistem industri hulu migas, termasuk kontraktor, industri jasa penunjang, hingga regulator. Menurut Teresita, IPA Convex 2026 juga akan diisi oleh beberapa pengumuman dan penandatanganan terkait perjanjian komersial di sektor hulu migas.
"Kami ingin IPA Convex menjadi platform yang menghasilkan kolaborasi nyata dan mendorong percepatan investasi, khususnya di sektor hulu migas Indonesia yang masih memiliki potensi sangat besar," kata Teresita.
IPA Convex 2026 akan diikuti oleh lebih dari 200 exhibitor dan 200 technical presentation. Agenda ini mencakup berbagai isu strategis di sektor energi, mulai dari eksplorasi, teknologi, transisi energi, hingga investasi di hulu migas. Bekerja sama dengan Dyandra Promosindo, IPA Convex 2026 akan berlangsung pada 20-22 Mei 2026 di ICE BSD.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













