Reporter: Vina Elvira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Martina Berto Tbk (MBTO) melihat prospek bisnis pada sisa tahun 2026 tetap positif, meskipun industri kecantikan tengah dibayangi tekanan daya beli dan ketidakpastian geopolitik global.
Direktur Utama Martina Berto, Bryan David Emil, menyatakan pihaknya moderat optimis untuk dapat mencapai target penjualan bersih sebesar Rp 500 miliar. Hal ini didukung oleh ketahanan industri kecantikan, terutama untuk segmen middle dan middle-up.
Manajemen menilai, kekuatan brand heritage, inovasi produk, serta strategi multi-channel akan menjadi fondasi untuk menjaga pertumbuhan penjualan dan profitabilitas di 2026.
Baca Juga: Komdigi: Satelit Jadi Benteng Konektivitas RI di Tengah Ancaman Geopolitik
“Kami moderat optimis untuk mencapai target penjualan bersih penuh tahun 2026 sebesar Rp 500 miliar, dengan fokus pada inovasi produk dan penguatan kanal distribusi,” ungkap Bryan, kepada Kontan.co.id, Selasa (12/5).
Bryan menyebut, realisasi bisnis perusahaan hingga kuartal pertama ini juga masih on track dengan target tahunan. Pencapaian tersebut tercermin dari pertumbuhan penjualan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Hingga kuartal I-2026, penjualan MBTO naik 23,92% menjadi Rp 113,06 miliar dari Rp 91,24 miliar pada kuartal I-2025.
Penjualan didominasi oleh produk kosmetik sebesar Rp 51,95 miliar. Sementara itu, segmen jamu menyumbang Rp 424,65 juta dan penjualan lain-lain sebesar Rp 74,82 miliar.
MBTO juga mampu membalikkan keadaan dengan meraup laba bersih Rp 8,62 miliar, dibandingkan kerugian Rp 5,91 miliar pada kuartal I-2025.
Di sisi lain, laju bisnis MBTO di tahun ini juga tidak terlepas dari tantangan kenaikan bahan baku dan pelemahan rupiah terhadap dollar AS yang berdampak terhadap tekanan beban opersional yang juga turut menggerus margin perusahaan.
Meski begitu, pihaknya tetap berhati-hati dalam melakukan penyesuaian harga yang dibebankan kepada konsumen.
“Prinsip kami adalah menjaga daya saing dan tidak gegabah menaikkan harga, sehingga margin tetap terkendali,” paparnya.
Sebagai upaya menjaga pertumbuhan dan profitabilitas, perusahaan menyiapkan sejumlah strategi, antara lain memperkuat brand equity melalui komunikasi intensif di media sosial, hubungan erat dengan pelanggan utama (pareto customers), hingga edukasi pasar, serta efisiensi di seluruh komponen biaya.
Selain itu, MBTO terus berupaya meningkatkan kontribusi pendapatan dari anak perusahaan, yakni PT Cedefindo dan Martha Tilaar Shop.
Dari sisi channel penjualan, kontribusi penjualan MBTO masih ditopang dari modern trade, general trade, dan e-commerce. Terkhusus untuk e-commerce, kontribusinya konsisten bertumbuh dan mulai menjadi motor pertumbuhan baru, sejalan dengan perubahan perilaku konsumen.
Terkait belanja modal atau capital expenditure (Capex) 2026, MBTO menyiapkan dana sekitar Rp 8 miliar dengan fokus penggunaan meliputi investasi IT, renovasi gedung, dan peremajaan mesin produksi.
“Selain itu, kami tetap menjaga fokus ekspor ke Asia Tenggara, serta menyiapkan peluncuran produk baru di bawah brand existing yang akan segera diperkenalkan. Intinya, di tengah ketidakpastian global maupun lokal, MBTO tetap all out dengan sikap moderat optimis,” pungkasnya.
Baca Juga: Indonesia Bangun Spaceport di Biak, Rusia hingga India Mulai Tertarik
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













