kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Pasokan daging sapi seret terkendala transportasi


Kamis, 26 April 2012 / 19:11 WIB
ILUSTRASI. Tempe termasuk salah satu makanan yang mengandung protein. Pho KONTAN/Achmad Fauzie


Reporter: Hans Henricus |

JAKARTA. Masalah kekurangan pasokan daging sapi masih terjadi. Pemerintah mengklaim pemicunya adalah masalah transportasi antar daerah.

Apalagi, hasil sensus sapi tahun lalu mencatat sebanyak 15 juta ekor sapi tersebar di seluruh Indonesia. Menurut Menteri Pertanian Suswono, hasil sensus itu menunjukkan daya dukung dalam negeri mencukupi sampai 80% dari dalam negeri. "Artinya, barang ini ada di dalam negeri, persoalannya adalah transportasi pengangkutan dari satu daerah ke daerah lain," ujar Suswono usai acara Musrenbangnas, Kamis (26/4).

Bulan depan pemerintah akan menentukan perlu atau tidak menambah kuota impor daging sapi dan sapi bakalan. Saat ini, Menteri Pertanian Suswono telah membentuk tim evaluasi untuk mengecek kondisi daging sapi di lapangan.

Salah satu tugasnya adalah memastikan daya dukung daging sapi di dalam negeri. Tim evaluasi bekerja hingga akhir bulan April.

Selanjutnya, bulan depan Kementerian Pertanian mengevaluasi hasil kerja tim yang melibatkan Direktorat Jenderal Peternakan dan asosiasi itu. "Hasil evaluasi untuk merekomendasi atau tidak tambahan kuota impor," ujar Suswono usai acara Musrenbangnas, Kamis (26/4).

Suswono menambahkan, impor sapi terdiri atas daging dan sapi bakalan. Tahun ini, kuota impor daging sapi sebanyak 34 ribu ton dan impor sapi bakalan sebanyak 283 ribu ekor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×