kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.831.000   -26.000   -0,91%
  • USD/IDR 17.074   71,00   0,42%
  • IDX 6.968   -58,84   -0,84%
  • KOMPAS100 961   -10,42   -1,07%
  • LQ45 704   -10,50   -1,47%
  • ISSI 250   -1,18   -0,47%
  • IDX30 387   -1,84   -0,47%
  • IDXHIDIV20 481   -2,10   -0,43%
  • IDX80 108   -1,40   -1,28%
  • IDXV30 133   -0,73   -0,55%
  • IDXQ30 126   -0,96   -0,75%

Pelemahan rupiah terhadap dollar AS pengaruhi kinerja industri galangan kapal


Jumat, 03 Agustus 2018 / 16:02 WIB
ILUSTRASI. Produksi kapal PT PAL Indonesia


Reporter: Ika Puspitasari | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) masih bertengger di kisaran Rp 14.400. Menguatnya dollar AS ini mempengaruhi kinerja beberapa industri, salah satunya galangan kapal.

Ketua Umum Ikatan Perusahaan Industri Galangan Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo), Eddy Kurniawan Logam menegaskan, pelemahan nilai tukar rupiah ini akan meningkatkan harga produksi kapal. Maklum, komponen kapal yang diimpor masih sebesar 65% sampai 70%.

Komponen yang dapat dipasok dari dalam negeri untuk membangun kapal hanya sebesar 30% sampai 35%. “Untuk kapal-kapal yang akan dibangun di kemudian hari harganya harus disesuaikan. Sebagian galangan, yang masuk penawaran ke pihak-pihak peminat sudah harus di sesuaikan dengan kurs yang baru,” kata Eddy kepada Kontan.co.id, Jumat (3/8).

Sementara, untuk perusahaan yang sudah teken kontrak, Eddy bilang ada beberapa hal yang perlu mereka lakukan salah satunya harus sudah membeli komponen dengan kurs yang lama.

“Tapi jika mereka belum mengantisipasi hal tersebut, hal ini bisa mengakibatkan kerugian karena penawaran dilakukan dalam rupiah sedangkan harga komponen diimpor,” ujarnya.

Dia berharap pelemahan nilai rupiah ini tidak berlarut-larut dan bisa stabil satu titik nantinya. Sebab apabila nilai tukar rupiah terus melemah, hal ini berpotensi menggerus laba industri galangan kapal. “Kenaikan harganya bisa sampai 3%,” imbuh Eddy.

Selain tertekan akibat melemahnya nilai tukar rupiah, Eddy juga prihatin karena order untuk pembangunan kapal masih rendah. Meski begitu, dia yakin ke depannya permintaan pembangunan kapal baru akan meningkat. “Tahun ini menurun daripada tahun sebelumnya,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×