Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dewan Pengurus Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Periode 2026 - 2029 menyiapkan peta jalan (roadmap) pengembangan industri keramik nasional.
Roadmap tersebut memotret potensi ekspansi yang mencakup pertumbuhan investasi, tingkat utilisasi serta penambahan kapasitas produksi.
Ketua Umum Asaki Edy Suyanto mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan roadmap industri keramik untuk tiga tahun ke depan. Salah satu yang menjadi sorotan adalah target peningkatan utilisasi produksi.
Baca Juga: Target Asaki Tarik Investasi Rp 5 Triliun, Utilisasi Keramik Tembus 80% pada 2026
Asaki menargetkan utilisasi produksi keramik nasional bakal terus naik dari 73% pada 2025, mendaki ke level 80% di tahun ini. Pada tahun depan, Asaki membidik utilisasi produksi keramik bisa naik menjadi 85%.
"Setelah itu, 2028 seterusnya, kami memberanikan diri untuk set (target utilisasi) di atas 90%," kata Edy pada agenda pelantikan Dewan Pengurus Asaki Periode 2026 - 2029 di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pada Selasa (3/2/2026).
Edy mengatakan bahwa proyeksi yang optimistis tersebut akan didukung oleh kebijakan dan program pemerintah.
Asaki mengapresiasi kebijakan yang mendukung industri keramik dalam negeri seperti anti-dumping, safeguard, dan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib yang telah mendorong pemulihan industri keramik pada tahun lalu.
Di sisi lain, ada sejumlah program pemerintah yang berpotensi membuat prospek industri keramik terus membaik.
Mulai dari Program 3 Juta Rumah, pembangunan Sekolah Rakyat, pembangunan Koperasi Merah Putih yang cepat dan masif, serta insentif di sektor properti.
Baca Juga: Target Industri Keramik Tahun 2026: Utilisasi 80%, Volume Produksi 537 Juta M²
Asaki bahkan mengestimasikan Program 3 Juta Rumah bisa mengerek naik utilisasi produksi keramik sekitar 16%. Dus, jika program ini terealisasi sesuai target, maka utilisasi produksi industri keramik nasional akan melampaui 90%.
"Tapi untuk tahun ini kami masih menggunakan angka yang moderat di 80%," imbuh Edy.
Tak hanya utilisasi, kapasitas produksi industri keramik pun bakal naik. Edy membeberkan bahwa kapasitas produksi industri keramik nasional tahun lalu berada di level 650 juta meter².
Kapasitas terpasang akan bertambah sekitar 4% menjadi 672 juta meter² pada tahun ini.
"Dua tahun ke depan, paling lambat 2028 ada tambahan lagi sehingga mencapai 701 juta meter². Nah, ini semakin mengokohkan industri keramik (Indonesia) pada lima besar dunia," sebut Edy.
Edy menambahkan, salah satu pendongkrak kapasitas produksi industri keramik nasional adalah skema kerja sama Original Equipment Manufacturing (OEM) antara importir dan produsen keramik lokal.
Baca Juga: OEM Jadi Primadona Baru Industri Keramik, Utilisasi Pabrik Meroket
Melalui skema OEM, ada pembangunan pabrik dengan kapasitas 60.000 meter².
Tak sampai di situ, ada rencana ekspansi pembangunan pabrik dengan kapasitas 50.000 meter². Edy bilang, skema OEM tumbuh seiring dengan kebijakan pemerintah yang memperkuat proteksi industri keramik dalam negeri dari produk impor.
Dengan berbagai perbaikan kinerja dan proyeksi ekspansi inii, Edy mengklaim bahwa Indonesia sudah bisa mencapai swasembada keramik.
"Multiplier effect dari kebijakan sudah mengalir. Kami berani menyampaikan sudah swasembada keramik. Tanpa impor, kami sudah bisa memenuhi permintaan keramik dalam negeri," sebut Edy.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa industri keramik bersifat siklikal.
Kinerjanya akan sangat dipengaruhi oleh dinamika pertumbuhan makro ekonomi, terutama dari sisi aktivitas pembangunan di sektor properti dan konstruksi.
Baca Juga: Produksi Keramik Naik 16% Jadi 392,7 Juta M² per Oktober 2025
Pemerintah telah memberikan sejumlah dukungan kebijakan untuk meningkatkan daya saing industri keramik nasional. Mulai dari SNI, anti-dumping, safeguard, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), standar industri hijau, hingga Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT).
Berdasarkan data Kemenperin, saat ini Indonesia memiliki 36 perusahaan keramik dengan total kapasitas terpasang sebesar 650 juta meter². Indonesia merupakan negara produsen keramik terbesar kelima di dunia. Adapun, empat produsen keramik terbesar adalah China, India, Brazil dan Vietnam.
Agus meyakini industri keramik nasional bakal terus mencetak pertumbuhan dengan dorongan dari kebijakan dan program pemerintah, serta permintaan dari sektor swasta maupun masyarakat.
Saat ini, rata-rata konsumsi keramik di Indonesia baru sekitar 2,5 meter² per kapita.
Masih jauh di bawah rata-rata regional Asia Tenggara dengan konsumsi keramik 3 - 3,5 meter² per kapita, maupun negara produsen utama seperti China yang mencapai 4 meter²per kapita.
Baca Juga: Industri Keramik Kian Menguat, Pameran KERAMIKA Indonesia Siap Digelar Tahun Depan
Menurut Agus, data ini menunjukkan bahwa potensi pasar domestik masih sangat besar untuk dapat dikembangkan, sekaligus menjadi peluang ekspansi bagi industri keramik.
"Kami juga optimis bahwa dengan kinerja yang terus meningkat dengan baik, misi kita untuk menjadikan sektor keramik naik tingkat ke posisi keempat dunia bisa segera tercapai," ungkap Agus.
Selanjutnya: Impack Pratama Industri (IMPC) Akan Buyback Saham Rp 500 Miliar
Menarik Dibaca: Eastspring Indonesia dan Maybank Luncurkan Reksadana Campuran Offshore
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Edy Suyanto
- Kemenperin
- Asaki
- industri keramik
- program 3 juta rumah
- Kebijakan Safeguard
- SNI Wajib Keramik
- OEM Keramik
- Utilisasi Produksi Keramik
- Investasi Keramik
- roadmap keramik
- kapasitas produksi keramik
- swasembada keramik
- ekspansi industri keramik
- Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita
- kebijakan anti-dumping
- konsumsi keramik per kapita
- pasar domestik keramik
- pertumbuhan industri keramik













