kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.695.000   18.000   0,67%
  • USD/IDR 17.869   44,00   0,25%
  • IDX 6.483   80,68   1,26%
  • KOMPAS100 837   7,57   0,91%
  • LQ45 637   4,58   0,72%
  • ISSI 228   5,22   2,34%
  • IDX30 356   2,33   0,66%
  • IDXHIDIV20 433   2,50   0,58%
  • IDX80 96   0,77   0,82%
  • IDXV30 120   1,00   0,84%
  • IDXQ30 113   0,83   0,74%

Sebanyak 47 PLTU di Indonesia Sudah Terapkan Teknologi Co-firing Biomassa


Kamis, 13 November 2025 / 20:54 WIB
Sebanyak 47 PLTU di Indonesia Sudah Terapkan Teknologi Co-firing Biomassa
ILUSTRASI. PLN Indonesia Power (PLN IP) mengumumkan telah membangun sistem digitalisasi rantai pasok biomassa berbasis marketplace. Kini sudah mulai dioperasikan di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Adipala, Cilacap, yang dikelola oleh Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Jawa Tengah 2 Adipala


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah terus memperluas penerapan energi bersih di sektor ketenagalistrikan melalui teknologi co-firing atau pencampuran biomassa dengan batubara pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Hingga Oktober 2025, terdapat 47 PLTU yang telah mengimplementasikan teknologi tersebut.

Baca Juga: Industri Kosmetik Lokal Tumbuh Pesat, Pasar Diperkirakan Tembus Rp 158 Triliun

Pelaksana tugas (Plt.) Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun 2020 yang baru mencapai enam pembangkit.

“Sampai akhir Oktober 2025, jumlahnya melonjak menjadi 47 pembangkit,” ujar Tri dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, Kamis (13/11/2025).

Tri menjelaskan, total volume biomassa yang telah dimanfaatkan melalui skema co-firing mencapai 1,8 juta ton, dengan total produksi listrik sekitar 1,78 juta megawatt hour (MWh).

Sementara itu, produksi listrik dari batubara di unit yang sama mencapai 193 juta terawatt hour (TWh).

Dengan demikian, rasio pemanfaatan biomassa terhadap batubara pada PLTU yang telah menerapkan co-firing mencapai sekitar 3,36%.

Baca Juga: PLN IP Digitalisasi Rantai Pasok Biomassa Lewat Marketplace di PLTU Adipala

Menurut Tri, pengembangan co-firing menjadi salah satu strategi utama dalam transisi energi nasional, sejalan dengan arah kebijakan pemerintah menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060.

“Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) yang disusun berdasarkan Kebijakan Energi Nasional (KEN) telah memproyeksikan kebutuhan kapasitas pembangkit mencapai 443 gigawatt (GW) pada tahun 2060 untuk mencapai NZE,” jelas Tri.

Ia menambahkan, program co-firing tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga membuka peluang ekonomi lokal melalui pemanfaatan limbah biomassa, seperti sekam padi, cangkang sawit, dan serbuk kayu, sebagai bahan bakar alternatif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×