kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.836.000   17.000   0,93%
  • USD/IDR 16.720   -165,00   -1,00%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Smelter Vale Indonesia (INCO) Harus Kelar dalam Tiga Tahun Pasca Perpanjangan Izin


Jumat, 10 November 2023 / 14:47 WIB
Smelter Vale Indonesia (INCO) Harus Kelar dalam Tiga Tahun Pasca Perpanjangan Izin
ILUSTRASI. Proyek smelter atau hilirisasi tetap menjadi kewajiban pasca perpanjangan izin PT Vale Indonesia Tbk (INCO).


Reporter: Filemon Agung | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan proyek smelter atau hilirisasi tetap menjadi kewajiban pasca perpanjangan izin PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan, sesuai ketentuan yang ada, proyek hilirisasi Vale Indonesia harus tuntas dalam tiga tahun setelah perpanjangan izin diberikan.

"Kalau dalam tiga tahun sejak perpanjangan itu tidak dilakukan maka gugur, kita tarik (izinnya)," kata Arifin di Kementerian ESDM, Jumat (10/11).

Adapun, perpanjangan izin akan diberikan pasca proses divestasi Vale Indonesia tuntas dilakukan. Pemerintah menargetkan divestasi 14% saham Vale Indonesia dapat disepakati pada tahun ini.

MIND ID dan Vale Indonesia disebut kini tengah melakukan negosiasi untuk besaran harga 14% saham tersebut.

Baca Juga: Bakal Beri Perpanjangan Izin, Ini Alasan Pemerintah Tak Pangkas Lahan Vale (INCO)

Saat ini INCO sedang menggarap tiga proyek jumbo dengan total investasi senilai US$ 9 miliar atau Rp 140 triliun (Kurs Rp 15.600/USD). Ketiga proyek itu ialah Sorowako Limonite senilai US$ 2 miliar, Smelter Bahodopi US$ 2,5 miliar, dan Smelter Pomalaa US$ 4,5 miliar. 

Jika ketiga proyek ini disatukan Vale dapat memproduksi 165.000 ton produk nikel. Khusus untuk smelter Bahodopi dan smelter Pomalaa akan menghasilkan Mix Hydroxide Precipitate (MHP) dan Mix Sulphide Precipitate (MSP) yang akan menjadi bahan baku komponen baterai dalam mobil listrik.

Salah satu proyek yang menjadi tonggak penting bisnis Vale ke depan ialah Smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Blok Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. 

Lewat kongsi dengan Zhejiang Huayou Cobalt Co Ltd, Vale Indonesia membangun proyek dengan total paket investasi yang terdiri dari pabrik HPAL dan tambang mencapai Rp 67,5 triliun. Proyek yang akan memproduksi 120.000 ton nikel dalam Mix Sulphide Precipitate (MSP) pertahun ini melibatkan 12.000 tenaga kerja untuk konstruksi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×