Reporter: Vina Elvira | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri ban nasional masih menghadapi berbagai tantangan pada 2026, terutama yang berasal dari faktor global seperti ketegangan geopolitik dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Presiden Direktur PT Bridgestone Tire Indonesia, Mukiat Sutikno, mengungkapkan bahwa kondisi geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah, berpotensi mendorong penguatan dolar AS terhadap rupiah, yang pada akhirnya berdampak pada lonjakan biaya produksi.
“Dengan kondisi geopolitik saat ini, nilai tukar dolar AS cenderung tinggi terhadap rupiah. Ini tentu memengaruhi biaya bahan baku maupun logistik,” ujar Mukiat, kepada Kontan.co.id, Selasa (24/3).
Baca Juga: Penjualan Ban Bridgestone Naik hingga 10% pada Periode Lebaran 2026
Mukiat menjelaskan, meskipun sekitar 45% bahan baku telah berasal dari dalam negeri, sebagian besar komponen utama seperti karet alam dan karet sintetis masih berbasis dolar AS.
Selain itu, jalur distribusi global juga mengalami tekanan. Perubahan rute pelayaran akibat kondisi keamanan membuat biaya logistik meningkat.
“Pengiriman menjadi lebih kompleks karena kapal harus menghindari wilayah tertentu, sehingga ongkos transportasi ikut naik. Ini juga bisa berdampak pada ketersediaan material,” tambahnya.
Mukiat menilai, kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi sisi pasokan bahan baku, tetapi juga berpotensi menekan permintaan secara keseluruhan.
Untuk menghadapi tantangan ini, Bridgestone menerapkan strategi menjaga keseimbangan antara pertumbuhan volume penjualan dan profitabilitas.
Baca Juga: Bridgestone Beri Layanan Tire Check di Rest Area Tol Cikampek untuk Mudik 2026
Meski demikian, Bridgestone tetap optimistis terhadap prospek bisnis di tahun ini. Setelah periode Lebaran, permintaan ban diperkirakan kembali normal atau sedikit menurun dalam jangka pendek.
Namun secara keseluruhan, perusahaan masih membidik pertumbuhan positif sepanjang 2026. Bridgestone membidik potensi pertumbuahn sekitar 5% dibandingkan tahun sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













