kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.577   24,00   0,14%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Eropa syaratkan RPSPO Red buat produk CPO


Kamis, 18 Desember 2014 / 19:41 WIB
ILUSTRASI. Ikan Kod merupakan salah satu jenis ikan laut dengan gizi paling tinggi kedua selain ikan sarden


Reporter: Mona Tobing | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Pasar Eropa kian selektif dalam memilih produk crude palm oil (CPO) Indonesia. Tahun ini, Komisi Eropa menuntut negara-negara penghasil CPO untuk memiliki sertifikat roundtable on sustainable palm oil atau RSPO Red ke pasar Eropa.

RSPO Red adalah penggabungan standar RSPO dan ketentuan Energy Directive Komisi Eropa mengenai biofuel. Artinya, negara penghasil CPO yang ingin melakukan ekspor CPO berbasis energi harus memiliki sertifikat tersebut. Untuk mendapat sertifikat RSPO Red, terlebih dulu perusahaan harus tersertifikat RSPO baru nanti dapat dilakukan upgrade menjadi RSPO Red.

Di Indonesia, minyak sawit bersertifikat RSPO Red berasal dari perkebunan kelapa sawit Golden Agri Resources di Indonesia memasok kebutuhan biofuel Neste Oil pada fasilitas kilang minyak mereka yang berlokasi di Rotterdam, Belanda.

Untuk bisa mendapatkan sertifikat RSPO Red biaya yang dikeluarkan tidaklah murah. Bisa mencapai US$ 60 per ton CPO sementara biaya sertifikat RSPO sebesar US$ 40 per ton CPO.

"Harga yang harus dibayar memang mahal. Tapi jika perusahaan dapat memiliki sertifikat ini pasar dan jualan akan lebih luas," ujar Edi Suherdi, Vice Chairman II RSPO Board of Governors, Kamis (18/12).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×