kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.988   -10,00   -0,06%
  • IDX 6.122   -26,16   -0,43%
  • KOMPAS100 793   -5,23   -0,65%
  • LQ45 608   -3,65   -0,60%
  • ISSI 212   -0,09   -0,04%
  • IDX30 337   -1,94   -0,57%
  • IDXHIDIV20 427   -0,46   -0,11%
  • IDX80 91   -0,65   -0,71%
  • IDXV30 115   -0,40   -0,35%
  • IDXQ30 110   -0,10   -0,09%

Hore, pengusaha furnitur tak perlu urus SVLK!


Sabtu, 29 November 2014 / 07:25 WIB
ILUSTRASI. Karyawan berjalan di depan layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww.


Reporter: Benediktus Krisna Yogatama | Editor: Anastasia Lilin Yuliantina

JAKARTA. Pemerintah memutuskan tetap mewajibkan pelaku usaha industri kayu mengantongi Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). Namun kewajiban itu hanya berlaku bagi mereka yang berbisnis di kayu hulu.

Sementara pelaku industri kayu hilir, seperti perajin furnitur dan kerajinan tangan tidak terkena kewajban itu. Mereka cukup menyatakan bahwa kayu yang digunakan berasal dari pelaku industri hulu bersertifikat SVLK. 

Proses tarik ulur mewarnai  penyusunan kebijakan itu. Sasaran utama kewajiban SVLK adalah mengatasi penebangan kayu yang dilakukan secara ilegal.
Namun ketika pemerintah menerapkan kebijakan itu, sejumlah pelaku industri hilir merasa keberatan. "Awalnya Kementerian Perindustrian mau SVLK ditunda dulu saja," ujar Saleh Husin, Menteri Perindustrian Jumat (28/11).

Hingga pada akhirnya, pada rapat koordinasi terakhir yang melibatkan Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Kehutanan, pemerintah bulat mengambil keputusan. "Kemarin keputusannya, industri kecil menengah kayu hilir hanya cukup self declaration bahwa mereka menggunakan kayu yang legal," kata Panggah Susanto, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian.

Dihubungi secara terpisah, Abdul Sobur, Sekretaris Jenderal Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) mendukung usulan itu. Selain memudahkan, pelaku industri hilir juga tak harus merogoh kocek besar untuk mengantongi sertifikat SVLK sekitar Rp 30 juta.

Sejauh ini Kementerian Perdagangan masih menggodok mekanisme self declaration yang bisa dilakukan oleh pelaku industri hilir.
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×