kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.023.000   -45.000   -1,47%
  • USD/IDR 16.805   -35,00   -0,21%
  • IDX 8.352   71,25   0,86%
  • KOMPAS100 1.175   11,46   0,98%
  • LQ45 847   9,28   1,11%
  • ISSI 297   2,78   0,94%
  • IDX30 447   5,63   1,28%
  • IDXHIDIV20 535   6,20   1,17%
  • IDX80 131   1,23   0,95%
  • IDXV30 145   2,55   1,79%
  • IDXQ30 144   1,66   1,17%

Indonesia Harus Beli 50 Pesawat Boeing, Menhub: Semua dari Garuda Indonesia


Rabu, 25 Februari 2026 / 12:42 WIB
Indonesia Harus Beli 50 Pesawat Boeing, Menhub: Semua dari Garuda Indonesia
ILUSTRASI. Kemenhub bilang pembelian 50 Boeing dilakukan oleh Garuda Indonsia


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Perhubungan (Menhub) RI Dudy Purwagandhi mengungkapkan bahwa kewajiban pembelian 50 unit pesawat Boeing dilakukan oleh PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA).

Adapun komitmen ini merupakan bagian dari kesepakatan dagang resiprokal Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) yang diteken pada 19 Februari 2026 lalu.

Dudy mengatakan, baik rencana maupun perkembangan pembelian 50 unit pesawat tersebut berada di bawah kendali Garuda Indonesia sepenuhnya.

Baca Juga: Tancap Gas pada 2026, TRIN Kejar Recurring Income Lewat Sektor Properti Strategis

"Iya (Garuda Indonesia semua, tidak ada maskapai lain). Aku nggak membeli pesawatnya, mesti tanya ke Garuda Indonesia," ujarnya saat ditemui di Stasiun Gambir, Jakarta, Selasa (24/2/2026).

Dihubungi terpisah sebelumnya, Pengamat Penerbangan Alvin Lie mencermati, komitmen pembelian 50 pesawat Boeing tersebut tampaknya ditujukan untuk regenerasi pesawat Boeing 738-800 milik Garuda Indonesia yang mulai berusia uzur.

Sehingga, menurut Alvin, dampak pembelian ini ke iklim bisnis dan peta persaingan industri penerbangan tak akan signifikan. "Benar, tidak signifikan. Tanpa perjanjian ini pun Garuda Indonesia sudah waktunya untuk peremajaan," katanya saat dihubungi Kontan, Minggu (22/2/2026).

Alvin melanjutkan, pesanan 50 pesawat tersebut juga tidak akan terealisasi dalam waktu dekat. Proses pengiriman (delivery) diperkirakan baru dapat dimulai dalam 3 tahun - 4 tahun mendatang apabila seluruh proses berjalan lancar.

"Sisanya akan dipenuhi secara bertahap. Kecuali jika Garuda membeli atau mengambil alih order pihak lain yang sudah lebih dulu masuk," imbuhnya.

Baca Juga: Summarecon Bekasi Targetkan Jual 30 Unit Rumah Super Mewah Tahun Ini

Lagipula, saat ini, Boeing kata Alvin juga masih menghadapi backlog atau antrean pesanan global, sehingga waktu tunggu pengiriman pesawat dinilai relatif panjang.

Di lain sisi, Alvin menyoroti Garuda Indonesia yang masih tertantang dalam pendanaan. Oleh sebab itu, dengan adanya perjanjian dagang ini, menurutnya pemerintah akan menggelontorkan dana ke maskapai pelat merah tersebut.

"Ada dari mana sumber pendanaan untuk peremajaan itu? Sedangkan untuk perawatan dan peremajaan mesin pesawat saja Garuda masih kesulitan pendanaan. Mungkin dengan perjanjian ini pemerintah akan suntik dana lagi," ungkap Alvin.

Selanjutnya: Nubia Neo 3 GT 5G: HP Gaming 3 Jutaan Dengan L/R Trigger & Layar OLED!

Menarik Dibaca: Promo 1 Hari Superindo Spesial Gajian 25 Februari 2026, Diskon 40% & Beli 1 Gratis 1

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×