kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   -260.000   -8,33%
  • USD/IDR 16.805   19,00   0,11%
  • IDX 8.330   97,40   1,18%
  • KOMPAS100 1.165   25,83   2,27%
  • LQ45 834   20,52   2,52%
  • ISSI 298   2,18   0,74%
  • IDX30 430   8,24   1,96%
  • IDXHIDIV20 510   9,16   1,83%
  • IDX80 129   2,93   2,32%
  • IDXV30 139   2,61   1,92%
  • IDXQ30 139   3,06   2,26%

Kenaikan tarif ditunda, pengusaha mengaku merugi


Jumat, 28 Juni 2013 / 17:17 WIB
Kenaikan tarif ditunda, pengusaha mengaku merugi
ILUSTRASI. Kemenkes Izinkan Pasien Covid-19 Omicron Isolasi Mandiri di Rumah, Ini Cara Mengobati


Reporter: Fahriyadi | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Belum adanya kepastian kenaikan tarif angkutan di Jakarta membuat pengusaha angkutan gundah gulana. Sebab, mereka akan terus menanggung kerugian yang tidak sedikit.

"Operator atau pengusaha saat ini menanggung beban karena lambannya penetapan tarif oleh Dewan dan Pemprov DKI, untuk itu kami imbau agar segera ditetapkan," ujar Sekretaris Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta, Jembar Waluyo, Jumat (28/6).

Menurut Jembar, kerugian yang diderita operator sejauh ini sekitar 30%-40% dari pendapatan yang diperoleh setiap hari. Kerugian itu diklaim untuk operasional setiap hari sejak harga Bahan Bakar Minyak (BBM)  naik.

Ia mengklaim kenaikan BBM ini memiliki kontribusi 23%-30% menaikkan biaya operasional para operator. Belum lagi, efek domino dari kenaikan BBM ini ke harga komponen kendaraan lain untuk operasional.

"Misalnya untuk bus besar reguler pendapatan per kendaraan Rp 1,5 juta per hari, maka bebannya bisa sampai Rp 500.000 per kendaraan jika tarif ini tidak disesuaikan," ucapnya.

Selain untuk menghindari kerugian, penetapan tarif angkutan ini penting agar operator yang menanggung beban ini tidak melanggar aturan dengan kenaikan tarif secara sepihak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×