Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) melalui anak usahanya, PT Krakatau Pipe Industries resmi memulai pengiriman pipa baja untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) pipa gas transmisi Dumai - Sei Mangkei (Dusem).
Seremoni pengiriman perdana berlangsung di Cilegon, Banten, pada Kamis (19/2/2026).
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengungkapkan bahwa Proyek Dusem menjadi bagian dari infrastruktur vital yang akan menyatukan jaringan transmisi gas dari Sumatra hingga Jawa.
Dengan jalur pipa sepanjang 541 kilometer, Proyek Dusem bakal menyalurkan gas yang dibutuhkan oleh konsumen, terutama untuk memenuhi permintaan dari industri.
Baca Juga: Krakatau Steel (KRAS) Targetkan Produksi Baja Naik 38% di Tahun 2026, Ini Strateginya
Laode mencontohkan penemuan gas di Blok Andaman, yang nantinya akan disalurkan ke titik-titik konsumen melalui jaringan transmisi gas Dusem.
"Jadi pipa ini sangat penting. InsyaAllah (Proyek Dusem) tahun 2027 sudah selesai, jadi 2028 sudah mengoperasikan pipa ini," ungkap Laode dalam seremoni pengiriman perdana pipa, Kamis (19/2/2026).
Pengerjaan Proyek Dusem dilakukan oleh dua Kerja Sama Operasi (KSO). Konsorsium Krakatau Steel bakal memasok total 83.000 ton pipa baja jenis Electric Resistance Welding (ERW) dan Helical Submerged Arc Welding (HSAW).
Produk ini diproduksi dengan spesifikasi internasional API 5L X52 PSL 2, yang dirancang khusus untuk menahan tekanan ekstrem guna menjamin keamanan operasional jangka panjang.
Baca Juga: Krakatau Steel Berpeluang Kantongi US$500 Juta dari Danantara, Ini Syaratnya!
Direktur Komersial, Pengembangan Usaha dan Portofolio KRAS Hernowo, menjelaskan bahwa pipa produksi Krakatau Steel Group untuk Proyek Dusem memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang cukup tinggi, yakni mencapai 60%. Agar memenuhi target pengerjaan Proyek Dusem, KRAS turut menggandeng mitra swasta untuk memproduksi pipa dengan bahan baku yang berasal dari Krakatau Steel Group.
Hernowo belum merinci nilai kontrak yang didapat KRAS dari Proyek Dusem ini. Dia hanya menggambarkan, dari total investasi Proyek Dusem senilai Rp 6,3 triliun, sekitar 60% - 65% dialokasikan untuk material pipa. Dus, estimasi kontrak pipa dari proyek ini mencapai Rp 3 triliun - Rp 4 triliun.
"Kami sudah pararel kirim lewat kapal. Satu kapal kira-kira 4.000 ton, terus sampai total 83.000 ton. Tahun ini kami selesaikan, karena target (dari Kementerian ESDM) sangat agresif, jadi kami harus menyesuaikan," terang Hernowo.
Baca Juga: Krakatau Steel (KRAS) Genjot Kawasan Industri, KSP Tarik Investor Asing
Direktur Komersial PT Krakatau Pipe Industries, Rony Yanuardi mengatakan bahwa pasokan pipa untuk Proyek Dusem menjadi salah satu kontrak besar yang digarap Krakatau Pipe pada tahun ini. Kontrak lainnya antara lain terjalin dengan PT PLN (Persero) dan penyediaan pipa untuk proyek penyaluran air dari Bendungan Karian ke Jakarta.
Dengan berbagai proyek tersebut, Rony optimistis Krakatau Pipe bisa mendongkrak pendapatan dengan level dobel digit. "Revenue kami tahun lalu tanpa ada proyek yang sangat besar sekitar Rp 3 triliun - Rp 4 triliun, kami ada target kenaikan sekitar 20% - 30%," terang Rony.
Perbaikan Kinerja KRAS pada 2026
Secara keseluruhan, Hernowo optimistis KRAS bisa memperbaiki kinerja bisnis dan keuangannya. Secara bisnis, KRAS ingin menangkap peluang dari proyeksi pertumbuhan permintaan di dalam negeri, khususnya dari proyek pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
KRAS antara lain melirik peluang dari proyek pembangunan kapal. Hernowo bilang, KRAS sudah memiliki kerja sama dengan PT PAL Indonesia untuk memasok bahan baja. Sementara itu, PT PAL akan menggarap berbagai proyek kapal seperti dari Pertamina dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
"Pertamina mau bikin kapal, KKP juga bikin kapal, itu yang mengerjakan PT PAL. Nah, PT PAL itu bahan bakunya dari Krakatau Steel. Jadi pasti lumayan, tapi belum dihitung (nilai kontrak dan kontribusi terhadap kinerja KRAS)," kata Hernowo.
Baca Juga: Krakatau Steel (KRAS) Membalik Rugi Jadi Laba US$ 22,17 Juta di Kuartal III-2025
Selain itu, sejak akhir tahun lalu, KRAS juga berkontribusi dalam program penanganan bencana dan proyek Makanan Bergizi Gratis (MBG), melalui pendirian dapur MBG di sejumlah titik. "Kami bantu agenda pemerintah," imbuh Hernowo.
Optimisme KRAS juga datang dari langkah pemerintah memperkuat proteksi terhadap industri baja dalam negeri, terutama melalui pengendalian produk barang impor. Hernowo mencontohkan pengenaan tarif 17,5% untuk salah satu produk baja impor dari China yang sebelumnya bisa melenggang masuk ke Indonesia dengan tarif 0%.
Dengan berbagai katalis positif tersebut, Hernowo meyakini KRAS bisa mendongkrak volume produksi baja sekitar 1 juta ton menjadi sekitar 4,5 juta ton pada tahun 2026. Apalagi, operasional KRAS juga akan terdorong oleh pabrik Hot Strip Mill (HSM) 1 yang sudah kembali beroperasi penuh.
Dari sisi pengembangan usaha, KRAS pun siap menjalankan mandat yang diberikan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Danantara terkait hilirisasi pertambangan.
Baca Juga: Krakatau Steel (KRAS) Kantongi Investasi China Perdana untuk Pabrik PET Resin di KIK
KRAS siap berkontribusi dalam proyek hilirisasi Danantara dengan mengolah pasir besi dan biji besi menjadi baja karbon, serta mengolah nikel ore menjadi stainless steel.
Dari sisi kinerja keuangan, KRAS berkomitmen untuk tidak lagi membukukan rapor merah dalam pembukuan tahunannya. "Tahun lalu bukunya InshaAllah sudah hijau. Tahun ini biru. Terus, tidak boleh merah lagi, pesan dari Danantara begitu," tandas Hernowo.
Selanjutnya: 11 Tips agar Tidak Gampang Lapar saat Puasa, Coba Terapkan!
Menarik Dibaca: 11 Tips agar Tidak Gampang Lapar saat Puasa, Coba Terapkan!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)