Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga timah dunia terus menanjak tajam dalam tiga bulan terakhir seiring ketatnya pasokan global dan meningkatnya permintaan dari sektor industri berteknologi tinggi.
Pemerintah menilai lonjakan harga ini tak lepas dari pengetatan tata kelola pertambangan timah di dalam negeri, termasuk pemberantasan tambang ilegal.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, kenaikan harga timah dipicu oleh lonjakan permintaan di tengah keterbatasan pasokan. Permintaan meningkat dari berbagai sektor strategis seperti industri elektronik, semikonduktor, hingga panel surya.
Selain itu, gangguan produksi di negara pemasok utama serta dinamika kebijakan dan geopolitik global turut mendorong harga timah ke level yang lebih tinggi.
“Terjadi lonjakan permintaan sementara supply relatif terbatas,” ujar Yuliot kepada Kontan, Rabu (28/01/2026).
Baca Juga: Perminas Bakal Urus Tambang Martabe Milik Agincourt Resources
Dari sisi emiten, PT Timah Tbk (TINS) menilai kenaikan harga timah dipengaruhi kuat oleh sentimen pasar terkait isu pasokan.
Division Head Corporate Secretary PT Timah Rendi Kurniawan menyebut, sentimen tersebut antara lain berasal dari pengetatan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta izin ekspor di Indonesia.
Selain itu, pemulihan pasokan yang lambat dari Myanmar serta kebijakan larangan ekspor timah di Republik Demokratik Kongo (DRC) selama enam bulan sejak akhir November 2025 turut memperketat pasokan global.
“Kenaikan harga timah berdampak positif terhadap harga jual logam timah ke konsumen PT Timah, khususnya untuk penjualan ekspor. Hal ini berkontribusi positif terhadap kinerja penjualan dan kinerja perseroan secara keseluruhan,” kata Rendi kepada Kontan, Rabu (28/01/2026).
Senada, Direktur Pengembangan Usaha PT Timah Tbk Suhendra Yusuf Ratu Prawiranegara menilai isu global terkait rare earth element (REE) turut memengaruhi sentimen harga timah. Meski demikian, ia menilai kenaikan harga saat ini tidak sepenuhnya didorong oleh faktor fundamental.
“Ada faktor supply dan demand, tapi juga sentimen pasar yang membuat harga terus naik. Namun, dalam kurun lebih dari satu semester terakhir, kenaikan harga ini jelas berdampak positif terhadap bottom line perusahaan,” ujarnya Rabu (28/01/2026).
Dari sisi industri, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy menegaskan posisi Indonesia sebagai produsen timah terbesar kedua dunia setelah China.
Ia mencatat, produksi bijih timah Indonesia mencapai puncaknya pada 2023 di kisaran 65.000 ton, lalu turun menjadi sekitar 45.000 ton pada 2024, dan kembali naik ke sekitar 50.000 ton pada 2025.
Menurut Sudirman, upaya pemerintah dalam memberantas tambang timah ilegal dan memperketat tata kelola pertambangan berdampak signifikan terhadap pasokan. Pengetatan tersebut menekan volume ekspor ilegal, bahkan membuat pasar gelap timah di negara tetangga mulai menghilang.
“Indonesia adalah produsen utama timah dunia. Ketika pasokan dari Indonesia mengetat, dampaknya langsung terasa di pasar internasional dan mendorong kenaikan harga,” ujarnya Rabu (28/01/2026).
Meski berdampak positif bagi kinerja PT Timah, Sudirman mengingatkan adanya risiko jangka panjang yang perlu diwaspadai. Harga yang terlalu tinggi berpotensi menekan daya beli konsumen dan memicu penurunan permintaan. Selain itu, lonjakan harga saat ini dinilai masih sarat spekulasi dan isu pasokan, sehingga berisiko terkoreksi secara tiba-tiba.
Baca Juga: Bukan Antam, Danantara Alihkan Tambang Agincourt Resources ke Perminas
Risiko lain datang dari potensi gangguan pasokan negara produsen lain seperti Myanmar yang dapat kembali memengaruhi keseimbangan pasar global.
Untuk itu, Perhapi menyarankan PT Timah memperkuat kerja sama strategis dengan negara produsen di kawasan ASEAN, seperti Myanmar dan Malaysia, untuk meningkatkan tata kelola produksi dan meminimalkan risiko operasional.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno menilai lonjakan harga timah dari level US$ 33.000 per ton ke kisaran US$ 50.000 per ton dipicu oleh penertiban tambang ilegal di Indonesia. Langkah ini dinilai mampu menekan penyelundupan timah yang selama ini beredar di pasar internasional.
Tri menegaskan, Indonesia memiliki kapasitas untuk memengaruhi sentimen global harga komoditas timah. Sejalan dengan kebijakan tersebut, harga timah di London Metal Exchange (LME) tercatat naik tajam dari US$ 36.435 per ton pada 27 Oktober 2025 menjadi sekitar US$ 55.005 per ton pada 26 Januari 2026. Dengan demikian, harga timah melonjak sekitar 50,97% hanya dalam kurun waktu tiga bulan.
Baca Juga: KKP Incar Investasi Biru dari Davos, OIS Bali Disiapkan Jadi Forum Pengunci Proyek
Selanjutnya: Indonesia's CIMB Niaga Explores IPO of Islamic Unit after Standalone Shift
Menarik Dibaca: Trading Halt! BEI Bekukan Perdagangan Sementara Setelah IHSG Anjlok 8%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













