kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.814.000   5.000   0,18%
  • USD/IDR 17.256   34,00   0,20%
  • IDX 7.056   -50,65   -0,71%
  • KOMPAS100 954   -7,59   -0,79%
  • LQ45 682   -5,16   -0,75%
  • ISSI 255   -2,22   -0,86%
  • IDX30 377   -2,04   -0,54%
  • IDXHIDIV20 462   -3,12   -0,67%
  • IDX80 107   -0,77   -0,71%
  • IDXV30 135   -1,07   -0,79%
  • IDXQ30 120   -0,94   -0,77%

Semen Indonesia (SMGR) Perkuat Bisnis Semen Rendah Karbon


Selasa, 28 April 2026 / 09:16 WIB
Semen Indonesia (SMGR) Perkuat Bisnis Semen Rendah Karbon
Proses bongkar muat semen kantong Semen Gresik  di Dermaga Terminal Khusus (Tersus) SIG di Kabupaten (SIG/dok)


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Transformasi hijau yang dijalankan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) makin menguat dan kini masuk ke fase yang lebih operasional: efisiensi energi, pengurangan emisi, hingga perubahan bauran bahan bakar di pabrik. 

Di tengah tekanan transisi energi dan tuntutan industri konstruksi rendah karbon, SIG mulai menempatkan strategi keberlanjutan sebagai penggerak utama bisnis, bukan sekadar program pendukung.

Salah satu langkah paling signifikan terlihat dari akselerasi penggunaan bahan bakar alternatif. SIG memperluas pemanfaatan limbah industri, biomassa, hingga sampah perkotaan untuk menggantikan batu bara yang selama ini menjadi sumber energi utama industri semen.

Sepanjang 2025, volume bahan bakar alternatif yang digunakan SIG tercatat naik 24% menjadi sekitar 681.000 ton. Kenaikan ini berdampak langsung pada penurunan konsumsi batu bara hingga 467.000 ton. 

Baca Juga: Semen Indonesia (SMGR) Perkuat Bisnis Berkelanjutan dengan Inovasi Industri Hijau

Dari sisi efisiensi energi, perubahan ini juga tercermin dalam peningkatan rasio substitusi termal (thermal substitution rate/TSR) ke level 9,77%, yang menunjukkan semakin besarnya porsi energi non-fosil dalam proses produksi.

Langkah ini tidak hanya menyentuh aspek lingkungan, tetapi juga struktur biaya industri. Dengan menekan ketergantungan pada batu bara, SIG sekaligus memperkuat efisiensi operasional di tengah fluktuasi harga energi global.

Di sisi lain, transformasi tersebut diperkuat dengan integrasi teknologi dalam proses produksi. 

SIG mulai mengadopsi digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi energi, serta memperkuat praktik ekonomi sirkular melalui pemanfaatan limbah sebagai bahan baku dan bahan bakar. 

Perusahaan juga mendorong penggunaan energi terbarukan serta memperbaiki rantai distribusi agar lebih berkelanjutan.

Baca Juga: Semen Indonesia (SMGR) Genjot Bisnis Non-Semen, Bidik 89% Potensi Material Konstruksi

Kombinasi strategi tersebut membuat SIG mampu memproduksi semen hijau dengan jejak karbon yang lebih rendah. 

Produk semen hijau perusahaan dilaporkan memiliki emisi hingga 38% lebih rendah dibandingkan semen konvensional (Ordinary Portland Cement/OPC), yang menjadi salah satu indikator penting dalam persaingan industri bahan bangunan global yang semakin ketat terhadap standar emisi.

Corporate Secretary Semen Indonesia, Vita Mahreyni, menegaskan bahwa arah bisnis perusahaan kini memang diarahkan pada inovasi rendah emisi yang tetap menjaga kualitas produk.

"Ini menjadi bukti bahwa produk bahan bangunan SIG tidak hanya soal mutu, tetapi juga mendukung pembangunan yang lebih bertanggung jawab dan rendah emisi," ujarnya dalam siaran pers, Selasa (28/4/2026).

Sejalan dengan itu, SIG juga mendorong pasar dan pemangku kepentingan untuk mulai mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam pemilihan material konstruksi, seiring meningkatnya kebutuhan pembangunan hijau.

Baca Juga: Manajemen Bilang, Bisnis Baru SMBR Akan Digelar Secara Bertahap Mulai Kuartal IV-2025

Puncak dari rangkaian transformasi tersebut terlihat dari capaian sertifikasi. Lima pabrik SIG berhasil meraih Green Label Indonesia predikat Platinum dari Green Product Council Indonesia (GPCI). Kelima fasilitas tersebut meliputi Pabrik Tuban milik SIG, PT Semen Tonasa Pabrik Pangkep, serta tiga pabrik PT Solusi Bangun Indonesia Tbk yakni Narogong, Cilacap, dan Lhoknga.

Penghargaan ini menjadi penanda bahwa strategi bisnis berbasis keberlanjutan SIG tidak hanya berhenti pada efisiensi operasional, tetapi juga sudah diakui dalam standar produk ramah lingkungan di sektor bahan bangunan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×