kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Pembebasan BM biji kakao diwacanakan


Kamis, 13 Februari 2014 / 16:54 WIB
Pembebasan BM biji kakao diwacanakan
ILUSTRASI. Ramalan BMKG cuaca hari ini Senin (26/9) di Jawa dan Bali cerah hingga hujan ringan. Tribun Bali/Andriansyah.


Reporter: Handoyo | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Lampu kuning bagi produksi biji kakao dalam negeri. Ditengah meningkatnya investasi disektor perusahaan pengolahan biji kakao, suplai biji kakao untuk industri mengalami kemerosotan. Salah satu opsi yang mungkin ditempuh adalah dengan membebaskan Bea Masuk (BM) untuk biji kakao impor.

Bayu Krisnamurthi, Wakil Menteri Perdagangan mengatakan, industri hilir kakao dalam negeri terus menunjukkan peningkatan, namun tidak didukung dengan ketersediaan bahan baku yang berimbang. "Sedang kita pikirkan pembebasan BM," ujar Bayu, Rabu (12/2).

Catatan saja, selama ini pemerintah menerapkan bea masuk untuk impor biji kakao sebesar 5%. Kebijakan tersebut diterapkan agar para petani lokal terlindungi baik dari sisi produksi maupun harga dari serbuan biji kakao impor.

Wacana pembebasan bea masuk untuk biji kakao impor tersebut tidak lain karena sudah ada proyeksi adanya kekurangan bahan baku ketika perusahaan pengolah biji kakao memanfaatkan seluruh kapasitas terpasang dari pabriknya dalam dua tahun mendatang.

Kekhawatiran akan minimnya suplai benih biji kakao dari dalam negeri tersebut semakin nyata dengan dihentikannya program Gerakan Nasional Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao (Gernas Kakao) pada tahun lalu. Catatan saja, Gernas kakao sendiri dilakukan pada periode tahun 2009-2013 lalu.

Dalam lima tahun program Gernas kakao tersebut hanya menjangkau 30% atau sekitar 450.000 hektare (ha) dari total lahan kakao di dalam negeri yang mencapai 1,7 juta ha. Tentu saja hal tersebut tidak dapat mengejar kebutuhan biji kakao untuk kebutuhan industri yang berkembang dengan pesat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×