kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45689,33   17,20   2.56%
  • EMAS917.000 0,11%
  • RD.SAHAM 0.85%
  • RD.CAMPURAN 0.47%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.24%

Konflik AS-Iran belum usik rencana Pertamina akuisisi blok migas di Timur Tengah


Jumat, 10 Januari 2020 / 16:02 WIB
Konflik AS-Iran belum usik rencana Pertamina akuisisi blok migas di Timur Tengah
ILUSTRASI. Pekerja memasang spanduk besar (banner) berisi dukungan Pertamina pada pesta olahraga Asian Games 2018, di Gedung Pertamina, Jakarta, Jumat (29/6). Konflik AS vs Iran belum mengusik rencana Pertamina akuisisi blok migas di Timur Tengah pada tahun ini. ANT

Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran telah membuat ketegangan dalam skala global. Kondisi itu menyulut harga minyak mentah dunia sehingga bergerak dinamis.

Namun, PT Pertamina (Persero) masih bergeming. Perusahaan minyak dan gas (migas) plat merah ini belum mengubah target dan rencana di tahun 2020, termasuk untuk mengakuisisi blok migas tahap produksi di timur tengah. Pasalnya, blok migas yang tengah diincar Pertamina berada di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA).

Baca Juga: Punya dana US$ 60 miliar, Indonesia jadi target pertama investasi DFC

Vice President Corporate Communications Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, rencana akuisisi tersebut masih tetap berjalan. Hanya saja, Fajriyah bilang bahwa Pertamina tetap akan melakukan evaluasi komprehensif terhadap seluruh risiko, termasuk dengan mempertimbangkan risiko geopolitik.

"Pertamina terus mencari opportunity untuk memiliki portofolio produksi yang lebih besar dari status saat ini di luar negeri, termasuk di UEA," kata Fajriyah saat dihubungi Kontan.co.id, Jum'at (10/1).

Fajriyah mengatakan, Pertamina tetap akan mencermati keberlanjutan dan dampak konflik antara AS dan Iran. "Untuk konflik (AS vs Iran) kita lihat nanti kelanjutannya seperti apa. Semua pihak masih menunggu seperti apa kelanjutan konflik ini, kita harapkan adanya solusi terbaik," ungkapnya.

Dihubungi terpisah, Sekretaris Perusahaan Pertamina Tajudin Noor menjelaskan bahwa akuisisi blok migas produksi dibutuhkan untuk mengamankan pasokan minyak mentah ke kilang Pertamina. Meski begitu, ia menegaskan Pertamina tetap akan melakukan kajian secara komprehensif sebagai mitigasi risiko investasi.

Baca Juga: Kementerian ESDM buka opsi kontrak cost recovery untuk lelang WK Migas

"Mitigasi risiko menjadi hal yang melekat di setiap pengambilan keputusan investasi. Pasokan minyak mentah milik kita dari luar negeri menjadi penting untuk mengamankan pasokan ke kilang kita," jelas Tajudin.

Sayangnya, Tajudin belum bisa memastikan kapan proses akuisisi ini akan terjadi. Ia pun belum menjelaskan dengan detail potensi blok migas yang diincar, harga akuisisi, dan dengan perusahaan mana saja penjajakan itu dilakukan.

Yang jelas, Tajudin mengatakan bahwa rombongan Pertamina juga akan mengikuti lawatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke UEA pada 11-13 Januari 2020 nanti. Dalam kesempatan tersebut, Tajudin berharap Pertamina sudah bisa menjalin kesepakatan bisnis dalam proses akuisisi blok migas produksi tersebut.

"Targetnya semakin cepat, semakin bagus. Rencananya rombongan akan berangkat mendampingi RI 1. Kita harapkan bisa ada kesepakatan perihal ini," ungkap Tajudin.

Baca Juga: Softbank Group siap gelontorkan investasi hingga Rp 1.380 triliun di ibu kota baru

Sebagai informasi, dalam kunjungan Presiden Jokowi ke UEA, pemerintah menyiapkan 14 proyek kerjasama dengan nilai US$ 18,8 miliar. Proyek yang akan dikerjasamakan bersama perusahaan dari UEA itu juga meliputi sejumlah proyek energi Pertamina, yakni kerjasama dengan Abu Dhabi National Company (ADNOC) di Kilang Balongan, serta kerjasama impor LPG dengan ADNOC.

Adapun, pada tahun ini ertamina menganggarkan capex sebesar US$ 3,72 miliar untuk menggarap sektor hulu migas. Jumlah itu setara dengan 60% dari total investasi Pertamina tahun 2020.

Dari investasi hulu itu, sebesar US$ 3,57 miliar akan dikucurkan untuk pengembangan bisnis hulu migas dari aset yang telah dimiliki Pertamina alias secara organik. Sementara sebesar US$ 150 juta untuk pengembangan hulu migas secara anorganik, yakni dengan merger dan akuisisi (M&A).

Berdasarkan data yang diperoleh Kontan.co.id, saat ini Pertamina memiliki sejumlah aset dan lapangan migas di luar negeri. Pertama, di Aljazair, yakni satu blok dengan tiga lapangan. Kedua, di Irak, yaitu satu blok dan lapangan West Qurna 1.

Baca Juga: Dua anak usaha Austindo Nusantara (ANJT) raih Proper Hijau di 2019

Ketiga, lima blok di Malaysia, yakti Blok K, Blok H, SK309, SK311, dan SK314A. Keempat, Pertamina memiliki 70,75% saham perusahaan asal Prancis, Maurel & Prom, dengan hak kelola atas blok migas di negara Kanada, Italia, Nigeria, Gabon, Tanzania, Namibia, Kolombia, Angola dan Venezuela.

Fajriyah mengatakan, pada tahun 2019, produksi dari aset luar negeri Pertamina tersebut mencapai sekitar 151.000 barel setara minyak per hari. "Pada tahun 2020 ini ditargetkan bisa naik sekitar 4,64% menjadi 158.000 barel setara minyak per hari," tandas Fajriyah.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.

Tag

TERBARU

[X]
×