Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
Kabar adanya penundaan pembelian dari sejumlah importir China tampaknya bakal menambah tekanan terhadap ekspor batubara Indonesia.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Januari - April 2026, nilai ekspor batubara mengalami penurunan sebesar 7,27% secara tahunan dari US$ 8,17 miliar menjadi US$ 7,57 miliar.
Penurunan tersebut sejalan dengan volume ekspor batubara yang menyusut 6,70% secara tahunan, dari 122,76 juta ton menjadi 114,54 juta ton pada Januari - April 2026.
Di antara tiga komoditas non-migas unggulan Indonesia, yakni besi dan baja serta Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya, hanya batubara yang mengalami penurunan nilai ekspor pada periode tersebut.
Baca Juga: Paragon Karya (PKPK) dapat Persetujuan RKAB Produksi Batubara 3 Juta Ton pada 2026
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Gita Mahyarani belum memberikan tanggapan mengenai kabar penundaan pembelian oleh sejumlah importir dari China.
Namun, soal prospek permintaan batubara, Gita menyatakan bahwa pasar ekspor masih cenderung selektif.
China dan India tetap membutuhkan batubara untuk menjaga keandalan pasokan listrik, tetapi pola pembelian dari kedua pasar utama tersebut lebih berhati-hati.
"Faktor stok, produksi domestik dan kondisi cuaca memengaruhi keputusan pembelian. Jadi, permintaan tidak hilang, tetapi buyer lebih selektif dalam menentukan waktu dan volume pembelian," kata Gita kepada Kontan.co.id pada Rabu (3/6/2026).
Menanggapi data BPS soal penurunan ekspor periode Januari - April 2026, Gita mengamini ekspor batubara Indonesia mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Ekspor Batubara Kini Lewat DSI, Penambang dan Pedagang dari Luar Negeri Masih Bingung
Gita mengungkapkan bahwa hal tersebut terjadi karena kombinasi dari berbagai faktor.
"Penurunan tersebut merupakan kombinasi antara volume ekspor yang lebih rendah, harga rata-rata ekspor yang belum kuat, serta permintaan dari beberapa pasar utama yang masih selektif," ujar Gita.
Gita pun menyoroti bahwa penurunan ekspor batubara sejalan dengan penyesuaian rencana produksi nasional. Seperti diketahui, pemerintah memperketat kuota produksi nasional dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
"Ketika ruang produksi lebih terbatas, maka volume yang tersedia untuk pasar ekspor juga ikut menyesuaikan, terlebih kebutuhan domestik tetap menjadi prioritas untuk dipenuhi," tandas Gita.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Apindo
- Ekspor Batubara
- Harga Batubara
- Kelapa Sawit
- Kementerian Esdm
- Gapki
- perdagangan komoditas
- Volatilitas Pasar
- APBI
- RKAB
- Investasi Batubara
- FINI
- IMA
- DSI
- komoditas strategis
- batubara Indonesia
- ketidakpastian regulasi
- ferro alloy
- Danantara Sumberdaya Indonesia
- kebijakan ekspor satu pintu
- Importir China
- Penundaan pembelian batubara
- Prospek ekspor
- Kinerja ekspor batubara
- Petunjuk teknis ekspor











