kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,31   -15,20   -1.62%
  • EMAS1.345.000 0,75%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kementerian ESDM Temukan Potensi Lithium dan Boron Menjanjikan di Sejumlah Wilayah


Jumat, 19 Januari 2024 / 13:23 WIB
Kementerian ESDM Temukan Potensi Lithium dan Boron Menjanjikan di Sejumlah Wilayah
ILUSTRASI. Ilustrasi PR Kementerian ESDM. KONTAN/Baihaki/20/10/2016


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menemukan potensi litihium dan boron yang menjanjikan di sejumlah wilayah di Indonesia.  Asal tahu saja, lithium dan boron merupakan  logam tanah jarang (LTJ) yang sangat dibutuhkan untuk bahan baku kendaraan listrik dan pembangkit Energi Baru terbarukan (EBT). 

Boron sendiri adalah komponen penting hydrogen fuel cells yang merupakan energi alternatif untuk kendaraan listrik, boron juga bahan baku dari neodymium-iron-boron (NdFeB) magnet, dan bahan baku untuk Pyrex.

Permintaan Boron naik 30% di tahun 2022 dan akan naik seiring dengan permintaan EV dan industri EBT di tahun-tahun mendatang. 

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Muhammad Wafid menjelaskan pihaknya telah melakukan eksplorasi lithium dan boron di sejumlah wilayah. 

Baca Juga: Revisi Permen ESDM Panas Bumi, Ini Sejumlah Poin Perubahannya

“Hasil penyelidikan tersebut mendapati kadar lithium dan boron yang cukup menjanjikan,” ujarnya dalam konferensi pers Badan Geologi secara virtual, Jumat (19/1). 

Pada tahun 2022, Badan Geologi melakukan eksplorasi potensi LTJ di Mamuju, Sulawesi Barat dan Parmonangan, Sumatera Utara. Eksplorasi tersebut menghasilkan kadar total LTJ tertinggi di Mamuju sebesar 4.571 ppm dan Parmonangan sebesar 1.549 ppm.

“Kami juga telah merekomendasikan usulan wilayah izin usaha (WIUP) Logam Tanah Jarang pertama di Indonesia di Mamuju,” ujarnya. 

Selain itu, pihaknya juga menemukan di di Bledug Kuwu, Grobogan, Jawa Tengah yang merupakan gunung lumpur (mud volcano). Di sana terdapat beberapa tambang garam tradisional yang diusahakan oleh masyarakat sekitar. 

Secara geologi, gunung lumpur Bledug Kuwu terletak di Cekungan Kendeng yang terdiri dari batuan – batuan sedimen yang beberapa merupakan reservoir gas dan minyak bumi. Gunung lumpur tersebut terbentuk akibat kompresi tektonik dan tekanan gas di bawah permukaan yang membentuk struktur diapir.

Pengambilan sampel untuk analisis litium dilakukan dengan mengambil air yang keluar dari gunung lumpur tersebut. Selain itu, sampel air juga diambil pada tambang garam tradisional. Petani garam menyalurkan air yang keluar dari gunung lumpur lalu diendapkan selama kurang lebih dua minggu sampai mengkristal menjadi garam. 

Baca Juga: Lelang Blok Tambang Sepi Peminat, Begini Tanggapan IMA

Garam tersebut lalu diambil dan terdapat sisa – sisa air yang tidak mengkristal menjadi garam. Air tersebut yang diambil untuk dianalisis litium. 

Air yang keluar pada gunung lumpur Bledug Kuwu mempunyai kadar litium 103 – 111 ppm dan boron 464 – 534 ppm.  Sedangkan air sisa pada tambang garam mempunyai kadar litium mencapai 1.059 – 1.110 ppm dan boron 2.660 – 2.781 ppm.

Terdapat peningkatan kadar litium dan boron yang signifikan setelah garam mengkristal sehingga dapat menjadi sumber baru litium dan boron. 




TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Sales and Operations Planning (S&OP) Negosiasi & Mediasi Penagihan yang Efektif Guna Menangani Kredit / Piutang Macet

[X]
×